BINUS Bandung Dorong Mahasiswa Jadi AI Engineer, Bukan Sekadar Pengguna AI

  • 08 Sep 2026 17:30 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong perguruan tinggi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi tersebut, tetapi juga membangun solusi berbasis AI. Melihat hal itu, Bina Nusantara (BINUS) University Bandung membuka program studi (Prodi) AI yang diresmikan di Kampus BINUS Bandung Paskal, Selasa 8 September 2026.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer (School of Computer Science) BINUS Bandung, Dr. Ir. Derwin Suhartono, mengatakan kebutuhan industri terhadap talenta yang mampu membuat AI semakin besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan BINUS membuka program studi Artificial Intelligence.

"Kalau kita bicara di industri, industri itu sudah banyak sekali yang minta lulusan yang bisa AI, tapi bukan hanya prompting, ini yang bisa bikin program AI-nya," ujar Derwin, Selasa 8 September 2026.

Menurutnya, masyarakat saat ini jangan sampai hanya menjadi pengguna AI. Kemampuan menggunakan AI melalui prompting memang penting, tetapi juga perlu dibarengi kemampuan memahami dan menyelesaikan persoalan dengan membangun solusi berbasis teknologi.

"Masalah itu akan bisa diselesaikan oleh AI engineer, bukan hanya AI prompter. Maka dari itu kami harus memfasilitasi mereka agar bisa meningkatkan level kemampuan mereka sehingga benar-benar mampu membangun AI," kata Derwin menambahkan.

Ia juga menilai kebutuhan tersebut juga harus dilihat dalam skala yang lebih luas. Indonesia, menurutnya, membutuhkan lebih banyak AI engineer untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan daya saing dengan negara lain.

"Kita bicara skalanya satu negara. Indonesia itu harus punya AI engineer yang banyak. Dan AI engineer yang banyak ini, prospek untuk pembangunan Indonesia itu pun pasti akan tinggi," ujar Derwin.

Soal kurikulum di Prodi AI, Derwin mengatakan BINUS telah menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan berbagai acuan akademik dan kebutuhan industri. Dalam penyusunannya, BINUS melihat kurikulum dari sejumlah universitas terkemuka di luar negeri yang memiliki program Computer Science dan bidang terkait, juga mengacu pada standar internasional dari Association for Computing Machinery (ACM).

"Kita lihat top 10 Universitas di luar negeri yang ada Computer Science dan lain-lainnya, kita lihat kurikulumnya, kita susun berdasarkan yang ada di sana. Dan juga standar-standar internasional dari Association Computing Machinery," kata Derwin.

Namun, menurutnya, standar internasional saja tidak cukup. Kurikulum juga harus disinkronkan dengan kebutuhan industri dan masyarakat agar kompetensi yang dipelajari mahasiswa benar-benar relevan dengan dunia kerja.

Sementara itu, Campus Director BINUS Bandung, Dr. Johan Muliadi Kerta, mengatakan mahasiswa dalam prodi AI akan diarahkan untuk membangun solusi AI yang dapat diterapkan pada berbagai persoalan nyata. Ia memberikan contoh proyek mahasiswa yang dapat mencakup berbagai bidang, salah satunya penggunaan computer vision untuk mendeteksi penyakit pada tanaman teh dan kopi.

"Dengan menggunakan kamera pada handphone, kita bisa tahu, ini masalahnya apa, penyakitnya apa. Jadi kita juga bisa menggunakan aplikasi AI tersebut untuk mendeteksi seperti itu," kata Johan.

Menurut Johan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran AI tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan aplikasi dan solusi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. BINUS berharap pengembangan talenta AI melalui program tersebut dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus mendorong lahirnya inovasi teknologi dari mahasiswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....