Pola Asuh Bentuk Kepribadian Anak
- 31 Agt 2026 21:05 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Fenomena “cowok bingung” dapat berkaitan dengan pola asuh orang tua yang terlalu mengontrol kehidupan anak dan minim memberikan ruang untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Pembahasan tersebut disampaikan dalam konten kanal YouTube Parentalk yang tayang pada 21 Agustus 2026, ketika membahas pengaruh pola asuh terhadap kemampuan anak membangun kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam materi tersebut, Parentalk menjelaskan bahwa pola asuh helikopter dapat menjadi salah satu faktor yang membuat anak mengalami kesulitan ketika harus menentukan pilihan dan bertanggung jawab terhadap keputusannya sendiri.
“Bisa jadi cowok bingung itu tumbuh dari pola asuh helikopter,” demikian disampaikan Parentalk dalam materi yang membahas pola asuh orang tua terhadap perkembangan kemandirian anak.
Pola asuh helikopter ditandai dengan kecenderungan orang tua terlalu banyak mengontrol, menentukan pilihan anak, bersikap terlalu protektif, serta sering ikut campur dalam berbagai persoalan kehidupan anak.
Kondisi tersebut membuat anak memiliki ruang yang terbatas untuk belajar mandiri karena berbagai keputusan yang seharusnya dapat menjadi pengalaman belajar justru lebih banyak ditentukan oleh orang tua.
Parentalk menyebutkan, ketika orang tua terlalu banyak mengendalikan kehidupan anak dan hanya memberikan sedikit ruang otonomi, anak berisiko lebih sulit berkembang menjadi pribadi yang mampu mengambil keputusan secara mandiri.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan yang dimilikinya.
“Biarin anak ambil keputusan-keputusan kecil sendiri,” kata Parentalk, seraya memberikan contoh berupa membiarkan anak memilih pakaian, menata mainan, serta berdiskusi mengenai menu bekal sekolah.
Kebiasaan tersebut dinilai dapat membantu anak berlatih berpikir, menentukan pilihan, sekaligus memahami konsekuensi dari keputusan yang telah dibuat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memberikan ruang mengambil keputusan, orang tua juga perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami kegagalan tanpa selalu terburu-buru menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
Parentalk menekankan bahwa pengalaman melakukan kesalahan dan menghadapi kegagalan dapat menjadi bagian penting dalam proses belajar anak untuk membangun kemandirian dan tanggung jawab.
“Parents harus ngasih ruang buat gagal,” ujar Parentalk dalam materi tersebut, karena anak dapat belajar dari kesalahan yang dialaminya ketika orang tua tidak selalu menyelamatkan anak terlebih dahulu.
Menurut Parentalk, melihat anak mengambil keputusan yang keliru memang dapat menjadi pengalaman yang sulit bagi orang tua, terutama ketika sebenarnya kesalahan tersebut dapat dicegah sejak awal.
Kekhawatiran orang tua sering kali mendorong keinginan untuk melindungi anak secara berlebihan karena merasa pilihan yang dibuatkan untuk anak merupakan keputusan terbaik bagi masa depannya.
Namun, perlindungan yang terlalu besar justru dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar menghadapi persoalan, mengambil keputusan, serta memahami konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Parentalk menilai fenomena “cowok bingung” tidak selalu muncul semata-mata karena keinginan anak, tetapi dapat berkaitan dengan pengalaman tumbuh dalam lingkungan yang minim ruang diskusi dan pengambilan keputusan.
Karena itu, orang tua perlu secara bertahap memberikan kepercayaan kepada anak untuk memegang kendali terhadap keputusan sederhana agar kemampuan berpikir dan bertanggung jawab dapat berkembang.
Pola pengasuhan yang memberikan ruang bagi anak untuk memilih, berdiskusi, mencoba, dan belajar dari kesalahan menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan secara lebih mandiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....