Ini Alasan Mengapa Pikiran Sering Membayangkan Hal Terburuk
- 31 Agt 2026 04:02 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Sebelum rapat dimulai, hasil tes keluar, atau menghadapi suatu peristiwa penting, sebagian orang sudah lebih dulu membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang sebenarnya belum terjadi.
Kecenderungan tersebut dibahas dalam tayangan kanal YouTube Psikologi Sederhana yang ditayangkan pada 19 Agustus 2026, dengan menjelaskan alasan psikologis dan cara kerja otak ketika manusia menghadapi ketidakpastian.
Dalam ilmu saraf, otak manusia memiliki kemampuan memprediksi berbagai kemungkinan berdasarkan pengalaman dan informasi yang pernah diterima sebelumnya. Mekanisme tersebut membantu seseorang mempersiapkan diri menghadapi situasi yang dianggap berisiko.
Namun, otak juga memiliki kecenderungan lebih memperhatikan informasi negatif dibandingkan informasi positif. Kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias, sehingga kemungkinan buruk terkadang terasa lebih menonjol daripada kemungkinan yang sebenarnya berjalan baik.
Pengalaman hidup, lingkungan yang sulit diprediksi, serta tekanan yang berlangsung dalam waktu tertentu juga dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan ancaman.
Kondisi kewaspadaan yang berlebihan tersebut dikenal dengan istilah hypervigilance. Seseorang dengan tingkat kewaspadaan tinggi dapat terus mencari tanda-tanda bahaya dan mengalami kesulitan untuk merasa tenang meskipun keadaan sebenarnya aman.
Meski demikian, membayangkan kemungkinan buruk tidak selalu berarti seseorang memiliki pola pikir yang tidak sehat. Dalam psikologi terdapat konsep defensive pessimism, yaitu menggunakan kemungkinan buruk sebagai bahan untuk melakukan persiapan.
Misalnya, seseorang membayangkan laptop mengalami masalah ketika akan melakukan presentasi. Jika kemudian ia membawa materi cadangan dan datang lebih awal untuk mengantisipasi gangguan, pikiran tersebut justru mendorong persiapan yang lebih baik.
Hal berbeda terjadi pada pola catastrophizing, ketika seseorang membayangkan hasil paling buruk secara berlebihan dan menganggapnya seolah-olah pasti terjadi tanpa melakukan persiapan yang nyata.
Pola tersebut dapat membuat seseorang memilih menghindari berbagai kesempatan karena terlalu takut terhadap kemungkinan gagal, salah, atau mengalami hasil yang tidak sesuai harapan.
Karena itu, membedakan antara pikiran yang membantu persiapan dan pikiran yang justru membuat seseorang menghindar menjadi langkah penting dalam menghadapi kecemasan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mempertanyakan apakah ancaman yang dibayangkan benar-benar ada, seberapa besar kemungkinan terjadinya, serta apa bukti yang mendukung dan menyanggah kekhawatiran tersebut.
Seseorang juga dapat menilai apakah pikiran buruk tersebut mendorong tindakan yang berguna atau justru membuat aktivitas sehari-hari semakin terbatas dan penuh kekhawatiran.
Jika kekhawatiran mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Memahami cara kerja pikiran tersebut dapat membantu seseorang menyadari bahwa membayangkan kemungkinan buruk bukan berarti hasil buruk pasti terjadi, karena pikiran hanyalah salah satu cara otak menghadapi ketidakpastian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....