Kisah Inspiratif Natasha, Difabel yang Raih Gelar Sarjana Dari Teknik Sipil ITB

  • 28 Agt 2026 15:11 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kisah inspiratif dari Natasha Shayla (22) hadir di Wisuda Institut Teknologi Bandung (ITB), gelombang ketiga 2025/2026, 27-28 Agustus 2026. Natasha yang merupakan difabel degeneratif otot dan pengguna kursi roda lulus dari Program Studi (Prodi) Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) setelah menempuh empat tahun masa studi.

Tak hanya itu, studi lanjutan ke jenjang Magister Teknik Sipil melalui program Fast Track juga telah menanti dirinya usai wisuda. Natasha mengaku bersyukur selama menjalani pendidikan di ITB mendapat dukungan dari teman-teman maupun pihak kampus.

"Awalnya pasti takut itu ada, tapi coba saja dulu. Percayalah masih banyak orang baik, banyak kok yang mau bantu, asal kitanya berusaha dan komunikasi saja kalau perlu bantuan," kata Natasha, di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Jumat 28 Agustus 2026.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika Natasha mengambil mata kuliah pilihan di program studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), di gedung SAPPK ITB. Awalnya ia mengira keberadaan lift akan membuat akses menuju ruang kelas menjadi lebih mudah, namun lift ternyata hanya tersedia hingga satu lantai di bawah ruang kelas.

Dalam kondisi tersebut, teman-temannya membantu mengangkat kursi roda yang digunakan olehnya. Ia menceritakan, saat itu empat orang bergantian mengangkat kursi dari bagian depan dan belakang.

"Ruangannya satu lantai di bawah lift, Alhamdulillah teman-temannya baik. Waktu itu berempat, ada yang di depan dan belakang untuk mengangkat kursinya. Itu sangat berkesan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan kuliah Natasha, tetapi juga menguatkan kepeduliannya terhadap persoalan aksesibilitas. Kepedulian itu ia tuangkan dalam tugas akhir berjudul "Analisis Konektivitas dan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas Pengguna Alat Bantu Jalan di Kawasan Kampus ITB Ganesha."

Meski melelahkan, penelitian tersebut membuat Natasha semakin mengenal lingkungan kampus tempatnya menempuh pendidikan selama empat tahun. Ia juga berharap hasil penelitiannya dapat menjadi masukan bagi ITB untuk terus meningkatkan fasilitas yang ramah dan mudah diakses oleh penyandang disabilitas dan semakin inklusif.

"Fasilitasnya sebenarnya sudah ada di beberapa tempat dan sudah bagus. Harapannya tugas akhir saya ini bisa menginspirasi dikembangkannya fasilitas supaya ke depannya semakin aksesibel di ITB Ganesha," katanya.

Kini, Natasha juga membuka kemungkinan untuk melanjutkan penelitian mengenai aksesibilitas dan mengembangkannya ke cakupan yang lebih luas. Hal itu rencananya akan ia lakukan saat menempuh studi di jenjang Magister yang juga dilakukan di kampus ITB.

Selain dukungan teman dan kampus, Natasha juga merasakan adanya kesempatan yang datang tanpa harus selalu ia cari sendiri. Salah satunya ketika ia mendapat tawaran beasiswa dari direktorat di kampus.

Karena itu, ia berpesan kepada penyandang disabilitas yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan tinggi agar tidak membiarkan rasa takut menghentikan langkah. "Takut itu tidak apa-apa, tapi jangan sampai tidak berani mencoba. Karena ketika kita berani mencoba, percayalah akan membuka jalan yang lain,” kata Natasha.

Kisah Natasha menjadi bagian dari Wisuda Ketiga Tahun Akademik 2025/2026 ITB yang digelar pada 27-28 Agustus 2026 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Bandung. Sejumlah 2.874 wisudawan dari jenjang sarjana, magister, dan doktor lulus pada wisuda itu.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., mengingatkan pada para lulusan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh bagi masyarakat.

"Syukur harus menjadi kerja. Syukur harus menjadi karya. Dan syukur harus menjadi manfaat," kata Tatacipta dalam sambutan, Jumat 28 Agustus 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....