Rektor UNLA: Hanya Bermodal Ijazah? Hidupmu Takkan Cukup!

  • 27 Agt 2026 09:20 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Universitas Langlangbuana (Unla) menegaskan komitmennya menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi dan pasar kerja yang semakin kompetitif. Di tengah percepatan teknologi, kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, hingga persaingan global, perguruan tinggi dituntut tidak sekadar mencetak lulusan bergelar, tetapi juga memiliki kompetensi dan mampu memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Langlangbuana, Irjen Pol. (P) Dr. Drs. A. Kamil Razak, S.H., M.H., dalam sambutan pada Sidang Terbuka Senat dalam rangka Wisuda Unla ke-49 Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Bandung Convention Centre (BCC), Jl. Soekarno-Hatta No.354, Kota Bandung, Rabu 26 Agustus 2026. Dalam wisuda tersebut, Unla mewisuda 596 lulusan, tberdiri atas 502 lulusan Program Sarjana (S1): Fakultas Hukum: 92 orang, Fakultas Ekonomi & Bisnis: 152 orang, FISIP: 119 orang, FKIP: 66 orang, Fakultas Teknik: 73 orang, dan 94 lulusan Program Magister (S2).

Rektor Unla Kamil Razak mengatakan, perubahan lingkungan pendidikan tinggi berlangsung semakin cepat. Perguruan tinggi kini harus berhadapan dengan persaingan yang semakin ketat, sementara masyarakat semakin kritis dalam menentukan pilihan kampus.

“Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan karakter dunia kerja, serta semakin terbukanya kompetisi global menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan,” kata Kamil. Menurut dia, lulusan juga harus mempunyai kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, berpikir kritis, menciptakan inovasi, serta menghadirkan solusi atas persoalan nyata di tengah masyarakat.

Kamil menyebut perubahan tersebut menjadi momentum bagi Unla untuk melakukan pembenahan dan mempercepat transformasi kelembagaan. Sejumlah program studi Unla, menurut Kamil, telah meraih predikat Akreditasi Unggul, di antaranya Program Studi Hukum, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, dan Ilmu Komunikasi. Namun, capaian akreditasi tersebut tidak ingin dijadikan sebagai garis akhir.

“Akreditasi Unggul bukanlah tujuan akhir. Akreditasi harus menjadi bagian dari budaya mutu,” tegasnya. Menurut Kamil, budaya mutu harus tercermin dalam seluruh proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pembelajaran, penelitian, pelayanan mahasiswa, tata kelola, kompetensi dosen dan tenaga kependidikan, hingga kualitas lulusan.

Selain itu, Kamil menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Kampus harus menjadi ruang yang mampu melahirkan pengetahuan baru, penelitian berkualitas, inovasi, gagasan, dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

“Universitas harus mampu menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan baru, penelitian yang bermutu, inovasi, gagasan, dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya. Karena itu, Unla terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas penelitian, publikasi ilmiah, inovasi, serta karya akademik yang memberikan dampak nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....