Alumni ITB Sampaikan Peran EV untuk Kemandirian Energi

  • 26 Apr 2026 12:23 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - EV adalah singkatan dari Electric Vehicle atau kendaraan listrik, yaitu moda transportasi (mobil, motor, bus) yang digerakkan oleh motor listrik dan baterai isi ulang, bukan mesin bensin. EV beroperasi tanpa emisi gas buang, memiliki suara senyap, dan pengisian daya dilakukan melalui steker listrik.

Haryadi Kaimuddin, CEO BYD Haka Auto Indonesia, yang juga Alumni Teknik Industri ITB 1992 mengajak mahasiswa memahami peran strategis kendaraan listrik. Yaitu dalam mendorong kemandirian energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan dalam Studium Generale dengan tema “Peranan EV menuju Kemandirian Energi” di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, di akhir April 2026 ini. Di gelaran itu menghadirkan perspektif industri terkait perkembangan kendaraan listrik dan tantangan energi. Kegiatan ini dihadiri oleh 1.000 mahasiswa secara luring dan daring di Kampus Cirebon dan Jatinangor.

Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. A. Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., menilai topik ini relevan dalam transisi menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan. “Ke depan, kita perlu membangun kesadaran bersama untuk tidak lagi bergantung pada energi yang lebih ramah lingkungan, serta mulai beralih ke teknologi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujarnya, Minggu 26 April 2026.

EV sebagai Solusi Kemandirian Energi dan Lingkungan

Dalam paparannya, Haryadi Kaimuddin menjelaskan bahwa kendaraan listrik berperan dalam menjawab tiga agenda utama Indonesia: kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan penurunan emisi. Ia menekankan bahwa adopsi EV berada di titik pertemuan ketiga target tersebut, sejalan dengan Asta Cita, rencana pembangunan jangka panjang, dan komitmen net zero emission.

Ia menambahkan bahwa sektor transportasi masih menjadi penyumbang utama konsumsi bahan bakar fosil. Tanpa transformasi energi, kebutuhan akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan.

Adapun potensi energi terbarukan Indonesia seperti tenaga air, panas bumi, dan surya dapat mendukung elektrifikasi transportasi serta mengurangi ketergantungan impor energi. “Kalau kita bisa beralih ke listrik yang bersumber dari energi domestik, maka ketahanan energi nasional akan jauh lebih kuat,” ujarnya.

Selain aspek energi dan lingkungan, ia juga menyoroti pesatnya perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Industri otomotif memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional, baik dari produksi, ekspor, PDB, maupun penyerapan tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan EV berpotensi memperkuat ekonomi dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi. Oleh karena itu, kesiapan sumber daya manusia sangat penting agar mampu memanfaatkan peluang tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....