Anak Sopir Angkot hingga Kuli Bangunan Raih Mimpi
- 21 Apr 2026 20:59 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung : Sidang Terbuka Wisuda Kedua Tahun Akademik 2025/2026 Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digelar di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga). Digelar dua hari pada pertengahan April 2026 ini, menghadirkan lebih dari sekadar perayaan akademik.
Di balik toga, senyum, dan tepuk tangan, wisuda ini memunculkan satu pesan yang kuat. Yakni pendidikan tinggi harus terbuka bagi semua, dan tidak boleh meninggalkan siapa pun.
Wisuda ITB kali ini terasa istimewa bukan hanya karena menjadi penanda berakhirnya masa studi para lulusan. Itu melainkan juga karena memperlihatkan sisi kemanusiaan yang begitu kuat.
Salah seorang wisudawan menuliskan kesan bahwa, suasana yang biasanya dibayangkan sangat teknis dan sarat pencapaian intelektual, justru diwarnai oleh kesadaran. Bahwa keberhasilan seorang wisudawan tidak pernah lahir dari perjuangan yang sepenuhnya individual.
Ada doa orang tua, ada pengorbanan keluarga, ada dukungan sahabat, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai tangan yang ikut menguatkan langkah hingga sampai ke hari bahagia itu. Dalam pidatonya, Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyatakan bahwa hari wisuda bukan hanya milik para lulusan, tetapi juga milik para orang tua, keluarga, sahabat, dosen, dan tenaga kependidikan yang telah membersamai perjalanan mereka.
"Bahwa di balik setiap toga ada cinta, doa, dan pengorbanan banyak orang. Selain itu, ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi alat untuk membangun masa depan bangsa dan memberi manfaat bagi orang lain," ujarnya, dalam keterangannya kepada awak media, Selasa 21 April 2026.
Dari sanalah muncul semangat bahwa pendidikan harus inklusif, memberi ruang bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk belajar dan bertumbuh. Termasuk pula mereka yang berasal dari keluarga sederhana, seperti anak pekerja bangunan, anak sopir angkot, anak petani kecil, hingga anak pondok pesantren dan lain sebagainya. Tidak ada yang ditinggalkan.
Pendidikan inklusif itu tampak jelas dari kisah para wakil wisudawan. Pada sesi pertama, Albert Lukas Pithel Hasugian dari Program Studi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen, membagikan cerita tentang perjuangannya sebagai anak seorang sopir angkot di Medan.
Kisah Albert dan Zulfi menjadi cerminan bahwa kampus adalah tempat harapan dapat bertumbuh melampaui batas latar belakang sosial dan ekonomi. Wisuda ini menunjukan bahwa pendidikan tinggi yang bermutu tidak semestinya hanya menjadi milik mereka yang telah mapan. Justru ketika kampus membuka jalan bagi lebih banyak anak bangsa untuk belajar, di situlah ilmu menemukan maknanya yang paling nyata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....