Inovasi Penangkap Karbon, Solusi Jangka Panjang Transportasi Kereta

  • 13 Mar 2026 20:11 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kereta api adalah moda transportasi rendah emisi, dengan KAI mencatat emisi 127,3 ribu ton dari KA Jarak Jauh pada 2025. Upaya pengurangan jejak karbon (carbon footprint) dilakukan melalui penggunaan biodiesel B40 (mulai 2025), inovasi teknologi penangkap karbon, dan fitur informasi jejak karbon di aplikasi Access by KAI.

Berikut adalah poin-poin penting terkait karbon dan kereta api:

Rendah Emisi: Kereta api dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan transportasi pribadi, dengan potensi pengurangan emisi signifikan. Biodiesel: PT KAI menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, beralih dari B35 ke B40 mulai 1 Januari 2025.

Fitur Jejak Karbon: Aplikasi Access by KAI kini dilengkapi fitur Carbon Footprint untuk mengedukasi penumpang tentang dampak lingkungan dari perjalanan mereka. Inovasi: Mahasiswa ITB mengembangkan teknologi penangkap karbon untuk kereta api.

Kereta Serat Karbon: Dunia mulai mengembangkan kereta metro berbahan serat karbon yang lebih ringan dan efisien. Contoh Dampak Emisi, Emisi satu lokomotif: 45.920 gram per kilometer. Perbandingan emisi: Kereta api jauh lebih rendah dibandingkan bus atau mobil pribadi.

Maka dari itu, terdapat tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menggagas inovasi penangkap karbon yang berpotensi mendukung transformasi industri kereta api nasional menuju transportasi rendah emisi. Gagasan tersebut membawa tim Ganeshasengumi meraih Juara 1 dalam ajang KAI Ideation Challenge, kompetisi business case yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Marketeers di KAI Jakarta Railway Centre (JRC).

Tim ini terdiri atas Roihan M. Iqbal (Teknik Material), Muhamad Tauhid (Teknik Mesin), dan Ilham Hakim (Magister Studi Pembangunan). Mereka mengusulkan konsep carbon capture pada sistem perkeretaapian sebagai langkah inovatif untuk mendukung dekarbonisasi sektor transportasi di Indonesia.

Bagi Roihan dan timnya, mengikuti kompetisi ini bukan semata untuk meraih kemenangan. Mereka melihat KAI sebagai BUMN yang memiliki dampak besar terhadap kebijakan publik dan pembangunan nasional.

“Kami ingin mengerjakan problem yang nyata dan strategis, bukan sekadar simulasi bisnis,” ujarnya, Jumat 13 Maret 2026. Menariknya, seluruh proses ideas hingga presentasi dilakukan secara mandiri. Kolaborasi lintas disiplin dalam tim menjadi kekuatan utama yang mempertemukan perspektif teknik, kebijakan, dan bisnis.

Kemenangan ini menunjukkan bahwa gagasan inovatif yang dibangun di atas riset yang kuat. Dan pemahaman konteks dapat memberikan kontribusi nyata bagi masa depan transportasi Indonesia.

Roihan pun berpesan kepada mahasiswa lain yang ingin mengikuti kompetisi serupa. “Jangan mulai dari ide yang ingin terlihat keren, tetapi dari masalah yang memang layak diperjuangkan. Kompetisi ideation bukan soal siapa yang paling kreatif di atas kertas, tetapi siapa yang paling memahami konteks dan berani menguji idenya dengan realitas,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....