Inovasi Insinerator Pendukung Pengelolaan Sampah Warga Desa Kidangpananjung

  • 10 Mar 2026 21:20 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik Institut Teknologi Bandung (HMFT-ITB) memberikan edukasi terkait pengolahan sampah anorganik menggunakan insinerator di Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kegiatan bertajuk “Infuse × Chelaborate” ini berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK-ITB).

Kolaborasi dengan HIMATEK-ITB ini didasari oleh topik pengmas yang dilakukan, yakni terkait pengelolaan sampah yang mayoritas dipelajari oleh mahasiswa teknik kimia ITB. Kegiatan ini dihadiri mahasiswa himpunan HMFT-ITB dan HIMATEK-ITB dengan total sebanyak 51 mahasiswa. Di sisi lain, masyarakat Desa Kidangpananjung ikut meramaikan dengan mayoritas dihadiri oleh ibu rumah tangga dan anak-anak setempat.

Program ini dipicu dari keresahan penduduk lokal akan banyaknya asap dan polusi udara yang berasal dari pembakaran sampah rumah tangga. Residu tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan warga serta lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan program visi pemerintah setempat, pada tahun 2030, masyarakat harus bisa melakukan pengelolaan sampah secara mandiri sehingga tidak mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Oleh karena itu, insinerator hadir sebagai solusi masalah tersebut.

Pada pengmas ini, insinerator dikenalkan ke masyarakat Desa Kidangpananjung terkait, cara pembuatan, cara kerja, dan penggunaannya. Insinerator bekerja dengan mereduksi residu pembakaran sampah yang dilakukan. Alat ini memiliki 2 lapisan utama yang umumnya terbuat dari logam, seperti seng. Pada lapisan pertama (dalam), lapisan ini digunakan sebagai pembakaran utama (primary chamber). Asap hasil pembakaran tersebut nantinya akan terkumpul dan masuk ke lapisan yang kedua. Pada lapisan kedua (luar), asap yang sudah dikumpulkan akan diolah kembali sehingga terjadi pembakaran sempurna dan menghasilkan residu yang lebih baik dibanding jika hanya pembakaran sampah secara konvesional.

Selain pemaparan insinerator, mahasiswa juga mengajak dan mengajarkan anak-anak setempat dari jenjang pendidikan 3-5 SD terkait daur ulang sampah. Anak-anak diajak untuk membuat mainan kincir angin yang terbuat dari sampah botol plastik.

Kegiatan pengmas ini disambut baik oleh warga Desa Kidangpananjung. Para ibu serta anak-anak proaktif dalam bertanya dan antusias di setiap kegiatannya. Kepala Desa Kidangpananjung, Yuyu Yuhaeni sangat senang atas kegiatan pengmas ini karena memberikan manfaat bagi warga. Harapannya, insinerator dapat menjadi alat yang berkelanjutan sehingga terus berkhasiat bagi warga Desa Kidangpananjung.

“Pengmas kali ini cukup sukses dan memberikan impact yang cukup nyata bagi masyarakat dalam mengatasi masalah sampah anorganik. Meskipun ini baru langkah awal untuk perubahan, jika terus dijaga maka bisa berkelanjutan dan memberikan impact yang lebih besar,” ujar Alton salah satu mahasiswa yang terlibat, Selasa 10 Maret 2026.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita