Kolaborasi ITB, Nagoya University, Pengalaman Akademik Budaya Desa
- 01 Mar 2026 21:11 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Kemitraan kembali memperkuat jejaring internasional melalui penyelenggaraan Short Program Nagoya University–ITB. Program ini menjadi wadah pertukaran akademik dan budaya bagi mahasiswa internasional, sekaligus memperkenalkan lingkungan akademik ITB serta kekayaan budaya Indonesia secara langsung.
Program ini diikuti oleh 17 mahasiswa dari Nagoya University yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari humaniora hingga teknik, dan didampingi oleh seorang dosen. Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga minggu, dimulai dari kedatangan peserta hingga kepulangan ke Jepang pada akhir Februari 2026.
Menurut Kepala Seksi Layanan Mobilitas Internasional, Fathatus Sania Noer, S.S., dari International Relation Office (IRO) ITB, program ini merupakan inisiatif dari pihak Nagoya University yang bertujuan memperkenalkan Indonesia dan sistem akademik ITB kepada mahasiswa Jepang. Yaitu khususnya sebagai pengalaman internasional pertama mereka.
“Sebagian besar peserta baru pertama kali ke luar negeri, dan Indonesia menjadi negara pertama yang mereka kunjungi di luar Jepang. Program ini diharapkan dapat menginspirasi mereka untuk mengikuti semester exchange, baik di ITB maupun di universitas lain di luar negeri,” jelasnya Minggu 1 Maret 2026.
Selama program berlangsung, para mahasiswa mengikuti kegiatan akademik melalui sistem sit-in di berbagai fakultas ITB sesuai dengan bidang studi masing-masing. Selain itu, peserta juga diajak mengenal budaya Indonesia melalui berbagai kegiatan nonakademik yang dirancang untuk memperkaya pengalaman lintas budaya.
Salah satu kegiatan tersebut adalah kunjungan ke Desa Mekarlaksana di Kabupaten Bandung Barat. Dalam kegiatan ini, mahasiswa mengikuti berbagai aktivitas budaya seperti menenun tekstil tradisional, membuat handcraft bracelet, serta mengenal kuliner dan kesenian lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya ITB untuk memberikan pengalaman budaya yang lebih kontekstual di luar lingkungan kampus.
“Pengenalan budaya sebenarnya juga dilakukan di dalam kampus, misalnya melalui kelas Bahasa Indonesia dan angklung. Namun kunjungan ke Desa Mekarlaksana memberikan pengalaman yang lebih nyata karena mahasiswa dapat melihat langsung kekayaan budaya sekaligus berinteraksi dengan masyarakat,” tambah Nia. Ke depan, ITB berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan, baik di desa yang sama maupun di desa budaya lainnya, dengan peningkatan dari sisi fasilitas dan pengelolaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....