“Agrapana” Hadirkan Inovasi Perontok Padi dan Pertanian Berkelanjutan
- 26 Feb 2026 22:09 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian (HIMAREKTA) “Agrapana” ITB dalam program pengabdian masyarakat bertajuk “Wanakarya” di Desa Wanasari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur Selatan, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan implementasi lanjutan dari program Desa Mitra HMM ITB yang telah berjalan sejak 2023.
Ketua Divisi Community Development HMM ITB sekaligus Ketua Pelaksana Wanakarya, Nabiel Falih Utama (Teknik Mesin 2022), menjelaskan bahwa selama dua tahun awal kemitraan, tim lebih banyak melakukan social mapping dan pendekatan sosial kepada warga. “Kami tidak langsung datang membawa solusi. Dua tahun pertama berfokus pada survei dan membangun kedekatan agar warga nyaman dulu dengan keberadaan mahasiswa,” ujarnya, Kamis 26 Februari 2026.
Dari hasil pemetaan tersebut, tim menemukan potensi besar di sektor pertanian padi, namun terdapat kendala dalam proses pascapanen. Metode perontokan padi masih dilakukan secara manual dengan cara ditepuk ke batu, yang dinilai memakan waktu dan menguras tenaga.
Menjawab permasalahan tersebut, HMM ITB merancang ulang mesin perontok padi berbasis pedal. Mesin ini menggunakan sistem sproket, rantai, poros, dan flywheel menyerupai mekanisme sepeda. Ketika pedal digerakkan, tabung kayu berlapis paku akan berputar dan merontokkan bulir padi saat ikatan padi disentuhkan ke permukaan tabung. Bulir padi kemudian jatuh ke bawah mesin dan ditampung menggunakan terpal, sesuai kebiasaan warga.
Nabiel menjelaskan bahwa prototipe sebelumnya telah diimplementasikan, namun mendapatkan umpan balik dari warga karena bobotnya terlalu berat dan kurang ergonomis. “Dari masukan itu, kami melakukan penyesuaian desain agar lebih ringan, lebih mudah dipindahkan, dan lebih nyaman digunakan,” ujarnya.
Proses perakitan dilakukan bersama warga desa, sehingga masyarakat memahami mekanisme kerja, perawatan, hingga potensi perbaikan alat. Sebanyak tiga unit mesin berhasil dirakit langsung di desa dengan partisipasi sekitar 10-15 warga.
Meskipun belum tersedia data kuantitatif terkait penghematan waktu dan biaya produksi karena implementasi dilakukan di luar musim panen, warga menyampaikan bahwa mesin tersebut dinilai jauh lebih efisien dibanding metode tradisional. Dari sisi investasi awal, memang terdapat biaya pengadaan komponen, namun secara tenaga dan waktu dinilai lebih hemat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....