Dialog Lintas Sektor Dorong Pendidikan Tinggi Inklusif

  • 30 Jan 2026 15:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Upaya mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif bagi penyandang disabilitas di Indonesia dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, baik secara struktural maupun pada tataran implementasi. Menyikapi kondisi tersebut, Telkom University bekerja sama dengan Lancaster University menggelar forum Multi-Stakeholder Discussion of The Landscape of Disability-Inclusion in Higher Education Institutions in Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Jakarta, Selasa 28 Januari 2026. ini menjadi ruang dialog kebijakan berbasis bukti dengan melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor. Forum ini bertujuan membahas temuan riset, mengidentifikasi kesenjangan implementasi kebijakan, serta merumuskan arah kebijakan pendidikan tinggi inklusif di Indonesia.

Diskusi dikemas melalui sesi pemaparan data dan diskusi terarah yang dipandu oleh Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Eka Prastama, S.T. Peserta diskusi berasal dari berbagai institusi strategis, di antaranya Telkom University, Komisi Nasional Disabilitas, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait.

Selain itu, hadir pula Kepala Subdirektorat Kelembagaan dan Kerja Sama Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama, Tenaga Ahli Madya Staf Presiden, serta perwakilan dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Sosial, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Diskusi berfokus pada sejumlah isu kunci yang teridentifikasi dalam riset The Landscape of Disability-Inclusion in Higher Education Institutions in Indonesia. Temuan riset menunjukkan masih banyak perguruan tinggi yang belum memiliki Unit Layanan Disabilitas maupun layanan pendukung yang memadai bagi mahasiswa dan staf penyandang disabilitas.

Temuan lainnya mengungkapkan minimnya alokasi pendanaan khusus untuk inklusi disabilitas serta belum adanya sistem pendataan mahasiswa disabilitas yang reliabel dan terintegrasi di seluruh perguruan tinggi. Kondisi ini dinilai menyulitkan pengambilan keputusan berbasis data untuk meningkatkan kualitas inklusivitas pendidikan tinggi.

Baca Juga: Google Tambahkan Fitur Gemini ke Chrome

Meski demikian, riset tersebut juga menyoroti sejumlah praktik baik dari beberapa perguruan tinggi yang telah menunjukkan kemajuan dalam membangun ekosistem kampus yang lebih inklusif. Hal ini dinilai dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain dalam mengembangkan kebijakan dan layanan inklusif.

Menutup diskusi, Eka Prastama menegaskan bahwa pendidikan tinggi inklusif tidak cukup berhenti pada penyusunan regulasi semata. “Keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya soal menerima mahasiswa disabilitas, tapi juga memastikan mereka bisa lulus dengan baik,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program i-DEA Hub (Indonesia Disability-Inclusion for Education and Accessibility), inisiatif kolaboratif yang didukung Komisi Nasional Disabilitas dan didanai British Council sejak 2024.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....