Komisi VII DPR RI Dorong Kemandirian Alutsista Nasional

  • 04 Des 2025 12:24 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) optimistis target kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) nasional pada tahun 2029 dapat tercapai. Optimisme itu mengemuka setelah rombongan Komisi VII melakukan kunjungan kerja spesifik ke PT Pindad (Persero) Bandung, Kamis (4/12/2025).

Anggota Komisi VII DPR RI, Ilham Permana, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan ke berbagai sektor manufaktur, termasuk industri pertahanan, untuk memastikan visi besar kemandirian alutsista benar-benar berjalan sesuai rencana.

“Jadi memang kami melakukan berbagai kunjungan ke berbagai sektor manufaktur. Salah satunya industri pertahanan. Kami ingin belajar permasalahan serta memastikan bahwa sesuai dengan visi besar kita, kemandirian alutsista di tahun 2029 dapat diwujudkan,” ujar Ilham Permana, Kamis (4/12/2025).

Baca juga : Dishub Cimahi Siapkan Pengamanan Lalu Lintas Jelang Nataru

Ilham menjelaskan, melalui diskusi bersama jajaran Direksi Defend ID dan PT Pindad, Komisi VII menemukan sejumlah kemajuan signifikan dalam rekayasa teknologi yang dilakukan Pindad. Inovasi tersebut dinilai mampu menjawab berbagai persoalan yang menjadi tantangan industri pertahanan nasional.

“Kami mendengar langsung dari Dirut Defend ID dan Dirut Pindad bahwa banyak rekayasa teknologi telah dilakukan untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan. Kami sangat mengapresiasi, dan mudah-mudahan ini menjadi kabar baik bagi kemandirian industri pertahanan kita,” ucapnya.

Salah satu isu klasik di sektor manufaktur yang kembali mencuat adalah ketersediaan bahan baku. Ilham mencontohkan masalah propelan komponen penting dalam amunisi yang selama ini sulit diperoleh dan berharga mahal. Namun, Pindad disebut telah menemukan jalan keluar melalui rekayasa industri yang dikembangkan secara mandiri.

“Tadi kita dengar masalah propelan. Tapi ternyata Pindad sudah punya way out, sudah punya rekayasa industri sehingga persoalan yang selama ini menghambat dapat mereka pecahkan. Ini pencapaian yang sangat kami apresiasi,” katanya.

Dalam kunjungan itu, Komisi VII juga menyoroti aspek presisi dan otomasi produksi di industri pertahanan. Ilham menanyakan apakah Pindad sudah menerapkan sistem otomasi mengingat tingginya tingkat presisi yang dibutuhkan. Namun, hingga saat ini sebagian besar proses masih dilakukan secara manual.

“Memang belum otomatis, semuanya masih manual. Tapi kami mendorong Pindad menuju otomasi agar reject rate-nya semakin turun. Namun menariknya, meski belum memiliki lini produksi otomatis, mereka sudah melakukan berbagai efisiensi sehingga reject rate berhasil ditekan,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....