Farhan, Penanganan Banjir Harus Libatkan Warga dan Pengelolaan Lingkun
- 17 Feb 2026 15:18 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Wali Kota Bandung Farhan menegaskan, bahwa penanganan banjir di Kota Bandung tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur seperti gorong-gorong atau bendungan. Menurutnya, solusi yang efektif harus dimulai dari keterlibatan aktif warga serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan terintegrasi.
“Banjir bukan hanya soal air, tapi juga tekanan lingkungan dan tata ruang yang belum optimal. Dengan sumur resapan, kolam retensi, dan penghijauan, warga bisa merasakan manfaat langsung,” ujar Farhan, Selasa 17 Februari 2026.
Farhan menjelaskan, persoalan banjir di Kota Bandung merupakan dampak dari berbagai faktor, mulai dari perubahan tata ruang, berkurangnya daerah resapan air, hingga meningkatnya kepadatan permukiman. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa bersifat parsial atau hanya mengandalkan proyek fisik berskala besar.
Menurutnya, setiap program mitigasi harus mampu menghadirkan manfaat ganda. Selain mengurangi risiko genangan dan banjir, program tersebut juga harus meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat. Ia menilai, kesadaran kolektif menjadi kunci utama agar upaya mitigasi bencana dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Adapun sejumlah program mitigasi yang saat ini dijalankan Pemerintah Kota Bandung meliputi pembangunan deep infiltration well atau sumur resapan dalam untuk menyerap air hingga lapisan tanah yang lebih dalam, sumur resapan dangkal di lingkungan permukiman, pembangunan kolam retensi sebagai tempat penampungan sementara air hujan, serta penguatan jalur hijau.
Selain itu, pengembangan taman tematik dan hutan kota juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas ruang terbuka hijau. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya serap tanah terhadap air sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.
“Setiap pohon dan sumur resapan adalah investasi keamanan warga. Ini bukan sekadar program teknis, tapi strategi membangun kota yang tangguh,” tegasnya.
Farhan juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam merawat fasilitas yang telah dibangun. Ia mengingatkan, sumur resapan dan kolam retensi hanya akan berfungsi optimal jika dirawat secara rutin oleh warga sekitar.
Mitigasi bencana, lanjutnya, harus dimulai dari skala terkecil, yakni rumah tangga, kemudian berkembang ke tingkat lingkungan dan komunitas. Edukasi kepada warga mengenai pentingnya menjaga saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta menanam pohon di pekarangan menjadi bagian dari gerakan bersama yang terus didorong pemerintah.
Selain fokus pada aspek fisik dan lingkungan, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari visi pembangunan kota berkelanjutan. Pemerintah Kota Bandung berupaya menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan pelestarian lingkungan demi menciptakan kota yang aman, nyaman, dan layak huni.
“Banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Dengan mitigasi yang tepat dan kolaborasi semua pihak, kota tetap aman dan nyaman bagi seluruh warga,” tandasnya.