Longsor Pasirlangu, Sri Tekankan Kebutuhan Penyintas Tak Terabaikan

  • 26 Jan 2026 13:09 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Tragedi longsor yang melanda Kampung Pasirkuning Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih menyisakan duka mendalam. Proses evakuasi korban hingga kini terus dilakukan, dengan laporan terakhir menyebutkan 23 orang telah ditemukan, sementara sekitar puluhan lainnya masih dalam pencarian.

Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat tim gabungan harus bekerja ekstra hati-hati, bahkan memanfaatkan teknologi drone untuk mempercepat pencarian. Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat dari Dapil Kabupaten Bandung Barat, Sri Dewi Anggraini, yang turut meninjau lokasi bersama Gubernur Jawa Barat, menegaskan bahwa kebutuhan mendesak saat ini bukan lagi pakaian atau logistik dasar, melainkan sembako untuk relawan dan warga terdampak.

“Banyak bantuan pakaian dan makanan sudah masuk, tapi yang paling dibutuhkan sekarang adalah sembako untuk menunjang dapur umum yang melayani relawan dan warga sekitar,” ujarnya kepada RRI Senin 26 Januari 2026.

DPRD Jawa Barat, lanjut Sri Dewi, tidak hanya hadir memberikan perhatian langsung, tetapi juga menggalang dukungan melalui lembaga internal seperti Kaukus Perempuan Parlemen. Bantuan khusus bagi perempuan dan anak-anak menjadi fokus, mengingat kelompok ini paling rentan dalam situasi darurat.

Baca juga:Pencarian Korban Longsor Dilanjutkan, Fokus di Dua Sektor

“Kami ingin memastikan bahwa kebutuhan mereka tidak terabaikan,” tambahnya. Selain penanganan darurat, DPRD Jawa Barat menekankan pentingnya pengelolaan tata ruang dan lingkungan sebagai langkah jangka panjang.

Menurut Sri Dewi, alih fungsi lahan yang serampangan menjadi salah satu pemicu bencana. Lahan yang seharusnya ditanami pohon tegakan justru dialihfungsikan menjadi lahan sayur dan bunga, sehingga tidak mampu menahan pergerakan tanah.

“Ke depan, kami bersama dinas terkait akan mengedukasi petani agar lebih bijak dalam mengelola lahan,” jelasnya. Ia menambahkan, edukasi harus dilakukan dengan pendekatan kearifan lokal agar masyarakat tidak merasa kehilangan mata pencaharian.

“Kalau hanya dilarang menanam sayur di kemiringan tertentu tanpa solusi, tentu sulit diterima. Maka perlu pendekatan hati ke hati, agar warga justru menjadi penjaga lingkungan,” kata Sri Dewi.

Dalam peninjauan bersama Gubernur, pemerintah juga menyalurkan bantuan tunai langsung kepada keluarga korban agar bisa mencari kontrakan atau tinggal bersama kerabat. Langkah ini diharapkan mencegah penumpukan pengungsi di GOR desa yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan fisik maupun mental.

Sri Dewi menutup dengan harapan agar masyarakat Jawa Barat mau belajar dari musibah ini.

“Kesalahan harus diakui dan diperbaiki. Jangan sampai bencana serupa terulang karena kelalaian kita sendiri. Dengan edukasi, tata ruang yang tepat, dan kesadaran bersama, kita bisa menjaga lingkungan sekaligus melindungi generasi mendatang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....