Atalia Jelaskan Bahayanya Haji Backpacker yang Digandrungi Masyarakat

  • 11 Jan 2025 16:29 WIB
  •  Bandung

KBRN,Bandung: Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Atalia Praratya, menyampaikan pandangannya mengenai fenomena haji backpacker yang semakin diminati masyarakat.

Istri mantan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil tersebut mengingatkan bahwa tujuan utama perjalanan ke tanah suci adalah untuk beribadah, sehingga prosesnya sebaiknya dilakukan dengan cara yang aman dan sesuai aturan.

“Ibadah akan lebih khusyuk jika dilakukan dengan mematuhi aturan yang berlaku. Niat kita berangkat ke tanah suci adalah untuk beribadah, jadi penting bagi semua pihak untuk mengikuti regulasi yang ada demi kenyamanan bersama,” ujar Atalia saat diwawancarai di Bandung, Sabtu (11/1/2024).

Atalia juga menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah menyusun berbagai regulasi terkait pelaksanaan ibadah haji untuk memastikan keamanan dan kenyamanan para jemaah.

“Pemerintah telah menetapkan biaya dan tata cara keberangkatan haji agar warga negara kita merasa aman dan nyaman selama berada di tanah suci,” katanya.

Lebih lanjut, Atalia menyoroti risiko yang dihadapi para haji backpacker asal Indonesia. Menurutnya, para jemaah yang berangkat secara mandiri tanpa mengikuti skema resmi kerap menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal perlindungan dan keselamatan.

“Ketika di tanah suci, jutaan orang berkumpul, dan jika terjadi masalah, para backpacker sering kali tidak memiliki pihak yang bisa membantu. Mereka berisiko kehilangan arah dan tidak tahu harus melapor ke siapa,” jelasnya.

Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia memastikan bahwa ia bersama rekan-rekannya terus bekerja keras memperjuangkan efisiensi biaya haji serta meningkatkan pelayanan bagi jemaah asal Indonesia.

“Kami di Komisi VIII berupaya memperbaiki pelayanan, mulai dari efisiensi biaya hingga peningkatan fasilitas. Semua ini dilakukan demi kenyamanan jemaah,” tambahnya.

Istilah haji backpacker sendiri merujuk pada jemaah yang menjalankan ibadah haji secara mandiri tanpa melalui program resmi pemerintah.

Biasanya, mereka hanya berbekal visa, paspor, sejumlah uang pribadi, serta barang bawaan dalam tas ransel atau koper.

Para backpacker ini tidak mendapatkan fasilitas seperti hotel atau makanan yang disediakan untuk jemaah reguler, sehingga seluruh biaya hidup selama di Mekkah menjadi tanggung jawab pribadi.

Dengan fenomena ini, Atalia mengimbau masyarakat untuk mempertimbangkan segala aspek, termasuk kenyamanan dan keselamatan, sebelum memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji secara mandiri.

“Mari patuhi aturan yang ada agar ibadah berjalan lancar dan khusyuk,” ajaknya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....