Begal Marak di Bandung, Andri Gunawan: Ini Musibah Demografi!

  • 27 Jul 2026 15:20 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Maraknya aksi begal dan kejahatan jalanan di Kota Bandung menyita perhatian publik. Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Andri Gunawan, menilai fenomena maraknya tindak kriminalitas belakangan ini bukan sekadar persoalan keamanan biasa, melainkan ancaman nyata berupa musibah demografi.

Menurut Andri, klaim bonus demografi yang selama ini kerap dibanggakan justru bisa berbalik menjadi ancaman serius apabila tidak dikelola dengan benar. Tingginya populasi usia muda tanpa didukung pendidikan berkualitas dan ketersediaan lapangan kerja menjadi akar utama persoalan maraknya kejahatan di jalanan.

Ia menegaskan bahwa ledakan populasi anak muda usia produktif di Kota Bandung yang tidak terserap oleh dunia industri menciptakan masalah sosial yang kompleks dan rentan terjerumus dalam aksi kriminalitas.

"Fenomena begal adalah konsekuensi logis dari peristiwa yang selalu kita agung-agungkan namanya bonus demografi, bonus demografi. Padahal dari dulu saya ngomong, jangan pernah ngomong bonus demografi. Mari kita tafsir ini jangan-jangan akan jadi musibah demografi! Anak mudanya banyak tapi tidak terdidik, tapi dunia industri tidak bisa menyerap mereka," ujar Andri Gunawan saat diwawancarai, di Bandung. Senin 27 Juli 2026.

Selain masalah lapangan kerja, Andri menyoroti maraknya peredaran obat terlarang dan minuman keras yang dinilainya sangat mudah diakses oleh anak muda. Kondisi ini mempercepat terjadinya pergeseran moral dan pemicu utama kejahatan jalanan.

"Toko Tramadol di mana-mana, terbuka di depan mata enggak mau ditutup. Toko miras di mana-mana, ya akibatnya begini. Banyak orang berbuat kriminal. Di Bandung ini saban kecamatan ada toko Tramadol. Pertanyaan saya: sesulit apa itu tempat-tempat itu sampai enggak bisa ditutup?" tegasnya.

Ia juga menyentil lemahnya pengawasan pemerintah kota terkait perizinan tempat penjualan minuman beralkohol. Andri menemukan fakta di lapangan mengenai lokasi penjualan alkohol yang berdekatan dengan fasilitas pendidikan.

"Di dapil saya di Astana Anyar, ada toko alkohol yang hanya berjarak kurang dari 200 meter dengan sekolah. Kok bisa keluar izin? Itu kalau berizin, kalau tidak berizin kenapa enggak ditutup-tutup?" cercecarnya.

Andri menambahkan bahwa kualitas pemuda dan potret riil Kota Bandung saat ini merupakan cermin dari kelalaian tata kelola masa lalu. Pemkot Bandung dinilai kerap berpikir jangka pendek tanpa perencanaan matang untuk 20 tahun ke depan.

"Gawean euweuh, anak mudana tidak terlatih dan tidak terdidik. Karena kita gagal berpikir jangka panjang. Ngurus negara ini hanya ngurusin persoalan hari ini," tutur Andri.

Guna menekan aksi kriminalitas seperti pembegalan, Andri mendesak Pemkot Bandung melakukan langkah antisipasi teknis dan infrastruktur dasar yang nyata. Penerangan jalan umum (PJU) serta pengawasan berbasis teknologi menjadi harga mati untuk menekan niat pelaku kejahatan.

"Kudunamah mikiran atuh, amun jalan poek pasti loba kriminal. Matakna jalanna kudu caang, CCTV kudu aya. Minimal jelema mun nyaho aya CCTV, rek ngabegal, rek ngabangsat sieun, da pasti katewak. Ngan ayeuna mah teu sieuneun, jalanna poek, CCTV-na euweuh ditambah bari keur mabok," pungkas Ketua DPC PDIP Kota Bandung tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....