Safari Keagamaan Antikorupsi KPK, Diharapkan Mampu Memberantas Korupsi
- 22 Mei 2025 18:55 WIB
- Bandung
KBRN, Subang : Safari Keagamaan Antikorupsi, merupakan peran serta tokoh Agama, Pemuka Agama, pendidikan keagamaan, Penyuluh Agama, dan Penghulu, dalam mewujudkan Kabupaten Subang bebas dari Korupsi. Acara Safari tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Kementerian Agama Subang, Kamis (22/5/2025).
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Barat Ajam Mustajam mengatakan, seluruh elemen yang ada di bawah naungan Kemenag, diberikan peran serta ikut me cegah korupsi, dan hari ini mereka sudah diberikan literasi anti korupsi oleh Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo.
"Terkait dengan membangun kehidupan beragama, tentu juga efektif untuk mencegah bahayanya korupsi," ujar Ajam kepada RRI di Subang, Kamis (22/5/2025).
Ia juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada KPK, Jajaran Kanwil Kemenag Jawa Barat dilibatkan, dalam mengedukasi masyarakat, untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat, dari mulai usia dini, hingga dewasa, guna mencegah tindak pidana korupsi.
"Karena korupsi itu, bukan kejahatan yang dilakukan oleh pejabat saja, tetapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat. Keterlibatan tokoh agama, pemuka agama, pendidikan keagamaan, penyuluh agama dan Penghulu, agar anak-anak dan masyarakat kita diberikan edukasi, melalui pesan moral bahaya korupsi," tukasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KPK RI Ibnu Basuki Widodo menjelaskan, safari keagamaan antikorupsi, KPK mengajak bersama-sama tokoh agama, pemuka agama, pendidikan keagamaan, penyuluh agama dan penghulu, agar ikut berperan serta untuk mewujudkan Indonesia terbebas dari korupsi.
"KPK tidak bisa sendirian, tanpa ada bantuan dari peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat disini adalah, untuk melakukan pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai Perguruan tinggi, bahkan penyuluh-penyuluh yang ada di masyarakat memberikan penyuluhan terkait anti korupsi, ya itu bisa dilakukan, itu bersama-sama Kanwil Kemenag," ungkap Ibnu Basuki.
Selain pendidikan, lanjut Wakil Ketua KPK, ada juga pencegahan. Kalau pendidikan itu merubah mental dan moralitas, supaya anak-anak itu jujur dan anti korupsi. Sedangkan pencegahan itu, membuat suatu peraturan supaya, tidak terjadi korupsi.
"Yang sudah dilaksanakan disini, salah satunya contohnya adalah, adanya Pelayanan terpadu satu pintu (PTSP), sehingga antara pelayanan dengan orang yang berkepentingan tidak langsung bertemu dengan pejabatnya, apa maksudnya, agar tidak terjadi kolusi. Seperti apa yang disampaikan pak Kakanwil ada suatu surat, tidak perlu diambil, tidak perlu datang kita ke pejabatnya, tetapi sudah dikirim secara online. Itu suatu kemajuan teknologi, yang bisa membatasi terjadinya kolusi," paparnya.
Sedangkan untuk penindakan, itu wilayah dari aparat penegak hukum, tetapi kata Ibnu Basuki masyarakat bisa berpartisipasi, denah melaporkan kepada KPK.
"Melaporkan bisa secara online, datang sendiri, bisa menggunakan link sudah KPK siapkan, dan juga peran media, cukup luar biasa dalam memberantas tindak pidana korupsi ini," tegas dia.
Ia optimis, dengan cara Safari keagamaan ini, KPK berikhtiar, untuk melakukan pemberantasan korupsi bersama-sama masyarakat.
"Tentunya dukungan yang sangat luar biasa, perhatian yang luar biasa pasti kita bisa, kita tidak boleh menyerah, kita jangan pesimis, justru harus optimis, agar bisa memberantas korupsi dengan berbagai macam cara. Karena tindak pidana korupsi merupakan tindak kejahatan yang sangat luar biasa, dan penindakan pun harus luar biasa juga," papar Ibnu Basuki.
Terakhir dia menyampaikan, peran serta masyarakat ini juga sangat penting, untuk mendorong agar aparat tidak melakukan korupsi, jangan pernah mengiming-imingi dengan suap, agar bisa diterima di suatu pekerjaan itu dari masyarakat. Jangan mau menerima supaya memilih sesuatu, yang belum tentu benar.
"Jangan mengiming-imingi aparat penegak hukum, agar merubah suatu kebijakan, itu adalah peran serta masyarakat," tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....