Kemauan dan Keberanian Jadi Modal Utama Belajar Public Speaking

  • 13 Agt 2026 10:25 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kemauan dan keberanian menjadi modal bagi seseorang yang ingin belajar public speaking. Penyiar RRI Bandung, Alan Albana, mengatakan kemampuan berbicara di depan umum merupakan keterampilan yang dapat dilatih oleh setiap orang.

Alan mengatakan dirinya merupakan seorang introvert yang dalam pekerjaannya justru dituntut untuk tampil di depan banyak orang. Selain sebagai penyiar, ia juga menjalani aktivitas sebagai pembawa acara, public speaker, pengajar, dan pembuat konten.

Pengalaman tersebut menurutnya menunjukkan bahwa sifat introvert bukan menjadi penentu seseorang dapat atau tidak dapat melakukan public speaking. Kemampuan berbicara di depan umum tetap dapat dikembangkan melalui proses belajar.

"Public speaking itu adalah skill yang bisa dilatih oleh setiap orang. Catatannya mau atau enggak," ujar Alan dalam program Podcastna RRI (PONARI) bertajuk "Rahasia Public Speaking Anti Grogi" di channel YouTube RRI Bandung Live.

Alan kemudian mengibaratkan kemampuan public speaking seperti belajar mengendarai motor. Menurutnya, siapa pun dapat mempelajari kemampuan tersebut selama memiliki kemauan dan keberanian.

Menurut Alan, rasa grogi juga tidak berarti seseorang tidak mampu melakukan public speaking. Ia mengatakan dirinya tetap merasakan deg-degan meskipun sudah sering tampil di depan orang lain.

"Deg-degan itu selalu ada. Cuman bedanya adalah mempersepsikan deg-degan ini yang perlu kita benahi," ujar Alan.

Ia menjelaskan, rasa deg-degan, nervous, atau grogi dapat menjadi alarm bahwa seseorang perlu melakukan persiapan sebelum tampil. Karena itu, persiapan menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi public speaking.

Alan juga menyebut terdapat tiga tahap dasar dalam belajar public speaking, yakni mindset, teknik, dan jam terbang. Menurutnya, ketiga unsur tersebut menjadi bagian yang membuat seseorang menjadi percaya diri.

Pada aspek mindset, Alan menekankan pentingnya menghilangkan keinginan untuk tampil sempurna. Menurutnya, tugas seorang pembicara bukan tampil sempurna, melainkan tampil sesuai dengan apa yang telah dipersiapkan.

"Tugas kita tuh bukan tampil sempurna. Tugas kita adalah tampil sesuai dengan apa yang kita persiapkan," katanya.

Selain mindset dan teknik, jam terbang juga menjadi bagian dalam belajar public speaking. Pengalaman tampil membuat seseorang semakin memahami situasi yang dihadapinya, termasuk ketika menghadapi rasa deg-degan.

Alan mencontohkan, ketika seseorang sudah sangat menguasai sebuah acara, rasa tegang dapat berkurang karena ia sudah mengetahui situasi dan takaran acara tersebut. Sebaliknya, acara yang dianggap besar dapat membuat seseorang kembali merasa deg-degan karena ingin memberikan penampilan yang baik.

Kemampuan public speaking pada akhirnya dapat dipelajari tanpa melihat apakah seseorang memiliki karakter introvert atau ekstrovert. Kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Dengan demikian, rasa grogi tidak perlu menjadi alasan untuk menghindari public speaking. Kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan melalui persiapan, teknik, dan pengalaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....