NDBF 7.0 Hadirkan Literasi dan Seni di tengah Zaman Peralihan

  • 13 Agt 2026 10:24 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 7.0 digelar di Nara Park, Bandung, 12–16 Agustus 2026. Festival ini mengusung tema “Pelita di Kalantara: Menjadi Cahaya di Zaman Peralihan”.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara (Lamrimnesia). Memasuki tahun ketujuh, NDBF menghadirkan literasi dan seni sebagai ruang menghadapi ketidakpastian zaman.

NDBF 7.0 berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Konflik global, wabah penyakit, dan kerusakan lingkungan menjadi bagian dari tantangan tersebut.

Melalui tema yang diangkat, festival ini tidak hanya menawarkan kegiatan membaca dan diskusi buku. NDBF juga menghadirkan ruang kontemplatif dan kolaboratif untuk membangun kehidupan yang lebih sadar.

Nilai spiritual, kearifan lokal, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Kesiapan mental dan fisik juga menjadi perhatian dalam menghadapi berbagai perubahan kehidupan.

Sepanjang 12–16 Agustus, pengunjung dapat menemukan bazar buku yang melibatkan lebih dari 20 penerbit lokal. Kehadiran penerbit dari Bandung dan sekitarnya ditujukan untuk menghidupkan kembali ekosistem literasi.

Puncak festival berlangsung pada 15–16 Agustus dengan menghadirkan bedah buku, lokakarya, talkshow, dan pertunjukan seni. Berbagai buku menjadi pemantik untuk membicarakan persoalan kehidupan dan tantangan zaman peralihan.

Rangkaian tersebut juga mempertemukan sejumlah komunitas di Bandung dalam ruang bertukar pengetahuan. Lab Pangan Gelanggang Olah Rasa, Wahu Waste Hub, Bandung Bergerak, dan Kampung Adat Cireundeu turut terlibat.

Kolaborasi NDBF 7.0 telah berlangsung sebelum festival utama digelar di Nara Park. Kegiatannya mencakup bedah buku dan journaling bersama Komunitas Aksara Rembaka serta Family Art Month di NuArt Sculpture Park.

Sejumlah tokoh dari berbagai bidang juga akan terlibat dalam rangkaian festival. Guru Besar ITB Iwan Pranoto dan jurnalis Ahmad Arif dijadwalkan memandu diskusi serta bedah buku.

Musisi Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, Knogg, serta seniman Marintan Sirait dan Monica Hapsari turut berpartisipasi. Mereka akan mengisi berbagai agenda yang menghubungkan literasi, seni, dan kehidupan.

Pertunjukan seni tradisi turut menjadi bagian dari NDBF 7.0 untuk memperkaya pengalaman pengunjung. Thimoer Art of Reak dan Tigapagi akan menghadirkan perpaduan seni tradisi Bandung dengan aransemen musik modern.

Melalui perpaduan literasi, seni, komunitas, dan kearifan lokal, NDBF 7.0 menawarkan ruang untuk berhenti sejenak. Festival ini mengajak masyarakat melihat perubahan zaman dengan lebih sadar, adaptif, dan penuh welas asih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....