Tari Jaipongan Tetap Digemari Masyarakat Jawa Barat

  • 06 Agt 2024 22:15 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Sekilas tentang lahirnya tari Jaipongan. Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H. Suanda, merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi Karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain.

Jaipongan di Karawang pesat pertumbuhannya, ditandai dengan munculnya rekaman Jaipongan Suanda Group dengan instrumen musik sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indi label), Jaipongan mulai didistribusikan secara swadaya oleh H. Suanda di wilayah Karawang dan sekitarnya. Tak disangka Jaipongan mendapat sambutan hangat.

Selanjutnya, Jaipongan menjadi sarana hiburan masyarakat Karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat Karawang dan menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya Karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat. Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternatif dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di Karawang seperti pencak silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek.

Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.

Mungkin di antara kita hanya tahu asal tari jaipong dari Bandung ataupun malah belum mengetahui dari mana asalnya. Jaipong itu asli Karawang kemudian dibawa ke Bandung oleh seniman disana Gugum Gumbira. Akhirnya dikemas dengan membuat rekaman. Seniman-seniman Karawang dibawa bersama Suwanda. Ketika sukses, yang bagus malah Bandung.

Karawang hanya dikenal gendangnya atau nayaga (pemain musik). Makanya sekarang kami di Disbudpar akan mencoba menggali kembali seni tari Jaipong bahwa ini seni yang sesungguhnya berasal dari Karawang”. Tari ini dibawa ke kota Bandung oleh Gugum Gumbira, sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk mengembangkan tarian asal Karawang di kota Bandung yang menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat.

Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan “ dikutif dari Wikipedia.org “sejarah tari Jaipong”.

Hingga sekarang tari jaipongan masih popular dan digemari masyarakat, terbukti dengan tingginya animo serta antusias peserta yang mengikuti salah satu event lomba yang diselenggarakan oleh DRK kerjasama Lisma Unpas dengan Pro 4 RRI Bandung.

Dalam gelaran Pasanggiri Jaipong Tiga Warna Lagu. Jumlah peserta hampir mencapai 300 pendaftar berasal dari berbagai daerah seperti : Priangan Timur, Subang, Bandung Raya, Banten hingga DKI Jakarta.

Acara diselenggarakan tanggal 3 dan 4 selanjutnya 10 dan 11 Agustus 2024 bertempat di Gedung Auditorium RRI Bandung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....