Fariz RM, Musisi yang Ubah Musik Indonesia

  • 30 Jul 2026 06:36 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Di tengah dominasi lagu-lagu pop melankolis pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, seorang musisi muda bernama Faris Rustam Munaf atau Faris RM menghadirkan warna baru yang kemudian mengubah arah perkembangan musik Indonesia melalui penggunaan synthesizer, teknik rekaman multiinstrumen, serta pendekatan musik modern yang sejajar dengan tren internasional.

Perjalanan tersebut diulas dalam tayangan kanal YouTube Radio Kaset yang tayang pada 26 Mei 2026. Tayangan itu menjelaskan Faris RM bukan sekadar penyanyi dan pencipta lagu, melainkan sosok yang memperkenalkan konsep produksi musik modern ketika industri musik Indonesia masih didominasi lagu-lagu pop melankolis atau yang dikenal sebagai "pop cengeng".

Pada masa itu, industri musik nasional dikuasai lagu-lagu bertema patah hati dan rumah tangga yang dipopulerkan sejumlah penyanyi, seperti Betaria Sonata, Dian Piesesha, dan Nia Daniati. Album-album bergenre tersebut meraih penjualan jutaan kopi kaset sehingga label rekaman cenderung mempertahankan formula yang telah terbukti sukses secara komersial.

Di tengah kondisi tersebut, Faris RM memilih jalur berbeda. Musisi kelahiran Jakarta, 5 Januari 1959 itu memanfaatkan teknologi synthesizer yang saat itu masih tergolong langka dan mahal di Indonesia. Berbekal kemampuan memainkan berbagai alat musik, ia merekam hampir seluruh instrumen dalam albumnya seorang diri melalui teknik overdubbing, mulai dari drum, bass, gitar, keyboard, piano, synthesizer hingga vokal.

Album Sakura yang dirilis pada 1980 menjadi tonggak penting perubahan tersebut. Karya itu memadukan unsur funk, pop Jepang, brass section, serta warna elektronik yang belum lazim terdengar di industri musik nasional saat itu. Album tersebut kemudian menempati peringkat ke-17 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi Rolling Stone Indonesia, sedangkan lagu "Sakura" berada di posisi kesembilan dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik.

Keberhasilan Sakura tidak menghentikan eksplorasi Faris RM. Setahun kemudian ia membentuk grup Trends bersama sejumlah musisi, termasuk Erwin Gutawa. Melalui album Hotel San Vicente, kelompok tersebut menghadirkan perpaduan jazz fusion, pop modern, serta aransemen yang lebih progresif dibanding musik populer pada masanya.

bacajuga=1;title="Fakta Menarik tentang Bersepeda yang Jarang Diketahui";sumber="berita"]

Eksperimen musikal Faris RM berlanjut melalui grup Symphony pada 1982. Album Trapezium menghadirkan nuansa new wave yang dipengaruhi perkembangan musik internasional, termasuk The Police dan Duran Duran. Album itu juga masuk dalam daftar album terbaik versi Rolling Stone Indonesia, memperkuat posisi Faris RM sebagai salah satu pembaru musik nasional.

Dalam tayangan tersebut dijelaskan bahwa keberhasilan gerakan pop kreatif tidak hanya dipengaruhi inovasi para musisi, tetapi juga kebijakan pemerintah pada 1988. Saat itu Menteri Penerangan Harmoko melarang pemutaran lagu-lagu pop cengeng di TVRI dan RRI dengan alasan tidak sejalan dengan semangat pembangunan nasional.

Kebijakan tersebut membuka ruang lebih luas bagi musik pop kreatif yang mengusung warna baru melalui penggunaan synthesizer, jazz fusion, funk, dan nuansa urban. Nama-nama seperti Faris RM, Candra Darusman, Krakatau, Karimata hingga Dian Pramana Poetra kemudian semakin dikenal publik melalui media penyiaran nasional.

Selain dikenal sebagai inovator, Faris RM juga tercatat sebagai musisi yang sangat produktif. Dalam tayangan itu disebutkan, sepanjang periode 1980 hingga 2000 ia menciptakan lebih dari 1.760 lagu, atau rata-rata hampir lima lagu setiap pekan selama dua dekade.

Produktivitas tersebut melahirkan sejumlah karya ikonik, termasuk lagu Barcelona dalam album Living in the Western World (1988). Lagu itu hingga kini masih banyak diputar, diaransemen ulang, dan menjadi salah satu referensi musik pop Indonesia modern. Rolling Stone Indonesia menempatkan Barcelona di posisi ke-23 dalam daftar lagu Indonesia terbaik sepanjang masa.

Pengaruh Faris RM juga mulai mendapat perhatian di tingkat internasional. Tayangan Radio Kaset menyebutkan label independen Hitam Manis Records merilis ulang karya-karya awal Faris RM dalam format piringan hitam pada 2018. Album tersebut kemudian memperoleh ulasan positif dari sejumlah media musik internasional, termasuk The Vinyl Factory dan Bandcamp.

Fenomena kebangkitan kembali musik era 1980-an juga melahirkan istilah Indonesian City Pop, yakni sebutan yang diberikan pendengar internasional terhadap musik pop kreatif Indonesia yang dinilai memiliki karakter serupa dengan Japanese City Pop. Lagu-lagu Faris RM kembali diperkenalkan kepada generasi baru melalui platform digital, forum musik, hingga media sosial.

Melalui perjalanan tersebut, Faris RM dinilai bukan hanya menghasilkan lagu-lagu populer, tetapi juga membuka jalan bagi perkembangan musik modern Indonesia. Eksperimen penggunaan synthesizer, keberanian memproduksi musik secara mandiri, serta kemampuannya memadukan berbagai genre menjadikan namanya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah industri musik nasional.

Menurut tayangan Radio Kaset, warisan terbesar Faris RM bukan hanya katalog lagu yang tetap dikenang hingga sekarang, melainkan keberaniannya membuktikan bahwa musisi Indonesia mampu berdiri sejajar dengan perkembangan musik dunia melalui kreativitas, inovasi, dan eksplorasi teknologi musik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....