“Berpihak pada Luka”, Jejak Eksperimental Harry Suliztiarto di Galeri Soemardja ITB
- 16 Mei 2026 18:10 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID — Ruang Galeri Soemardja dipenuhi atmosfer reflektif dalam pameran
tunggal Berpihak pada Luka karya Harry Suliztiarto. Pameran yang berlangsung sejak 13 Mei 2026 tersebut menghadirkan perjalanan artistik Harry melalui karya-karya tiga dimensi, arsip, bunyi, serta pengalaman ruang yang mengajak pengunjung menyelami gagasan tentang “luka” dalam kehidupan manusia.
Pameran ini mendapat perhatian dari berbagai kalangan seni rupa. Sejumlah seniman terkemuka turut hadir, di antaranya I Nyoman Nuarta dan Tisna Sanjaya, alumni Seni Rupa
ITB lintas generasi yang memadati area galeri, dan masih banyak lagi.
Dalam pameran tersebut, Harry menampilkan sepuluh karya tiga dimensi yang dikerjakan dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya menghadirkan objek rupa, pameran juga memuat arsip proses kreatif berupa sketsa, kliping, hingga catatan tangan yang memperlihatkan
perjalanan pemikiran artistik sang seniman sejak masa kuliah hingga hari ini.
Tema “luka” menjadi benang merah dalam keseluruhan pameran. Luka dalam karya-karya Harry tidak hadir semata sebagai gambaran penderitaan personal, melainkan sebagai cara membaca hubungan manusia dengan sesama, alam, lingkungan, dan dimensi spiritual.Pendekatan tersebut membuat karya-karyanya terasa intim sekaligus kontemplatif.
Sebagian karya juga melibatkan unsur gerak, bunyi, dan interaksi penonton. Pengunjung tidak hanya diposisikan sebagai penikmat visual, tetapi turut diajak masuk ke dalam pengalaman
ruang yang dibangun melalui material, suara, dan gestur tubuh.
Harry Suliztiarto sendiri merupakan alumni Studio Seni Patung FSRD ITB angkatan 1976 yang dikenal melalui pendekatan artistik eksperimental sejak akhir 1970-an. Namanya pernah
menjadi sorotan ketika salah satu karya patungnya dipresentasikan melalui aksi pemanjatan kubah Planetarium Taman Ismail Marzuki pada 1979 dalam Pameran Seni Rupa Seniman Muda Dewan Kesenian Jakarta.
Dalam sejarah seni rupa ITB, Harry juga dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang
menghadirkan penyimpangan terhadap tradisi estetika yang berkembang pada era 1970–1980-an. Namanya tercatat dalam kajian sejarah seni rupa sebagai bagian dari generasi yang mencoba membuka kemungkinan baru dalam praktik seni rupa kontemporer Indonesia.
Setelah sempat vakum cukup lama dari aktivitas berkesenian, Harry kembali aktif berpameran dalam beberapa tahun terakhir. Melalui Berpihak pada Luka, publik dapat melihat kesinambungan gagasan artistiknya, sekaligus perubahan pendekatan yang berkembang seiring
perjalanan hidupnya.
Tim kurator yang terdiri dari Danuh Tyas, Hazim M. Zarkasyi Hakim, dan Samuel Theodorus Kurniawan menilai pameran ini juga memperlihatkan hubungan erat antara praktik seni rupa dengan pengalaman panjat tebing yang selama ini dijalani Harry. Pengalaman tubuh, risiko,
ketegangan, dan relasi dengan ruang menjadi bagian penting dalam pembentukan karyakaryanya.
Pameran Berpihak pada Luka akan berlangsung hingga 13 Juni 2026 di Galeri Soemardja ITB dan turut disertai program diskusi publik yang membahas proses kreatif serta perjalanan artistik
Harry Suliztiarto.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....