Bad Bunny Cetak Sejarah Super Bowl LX 2026

  • 09 Feb 2026 14:28 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Bad Bunny mencetak sejarah di panggung Super Bowl melalui pertunjukan halftime yang sarat energi dan identitas budaya. Superstar asal Puerto Rico itu tampil sebagai artis Latin pertama yang membawakan sebagian besar set dalam bahasa Spanyol di panggung terbesar olahraga Amerika.

 Penampilannya langsung memantik perhatian publik global sekaligus mempertegas pengaruh musik Latin di industri hiburan arus utama.Ia membuka pertunjukan dengan lagu “Tití Me Preguntó” sambil berjalan melewati set panggung yang menampilkan elemen tradisi Puerto Rico. 

Penonton melihat topi pava, permainan domino, serta visual yang merujuk pada kehidupan sehari-hari masyarakat Karibia tersebut. Bad Bunny kemudian mengalirkan energi ke level berikutnya saat membawakan “Yo Perreo Sola” bersama barisan penari yang memenuhi stadion.

Ritme pertunjukan semakin intens ketika ia melesat melalui deretan hit reggaeton seperti “Safaera,” “Party,” “Voy a Llevarte Pa’ PR,” “EoO,” dan “Monaco.” Pada momen ini, Bad Bunny menari di atas “La Casita,” rumah tradisional Puerto Rico berwarna merah muda yang menjadi ikon tur konsernya. Struktur panggung itu juga dipenuhi bintang tamu seperti Jessica Alba, Karol G, dan Pedro Pascal.

Kejutan terbesar hadir saat Lady Gaga muncul dan membawakan versi salsa dari “Die With a Smile.” Di belakangnya, band Los Pleneros de la Cresta memainkan aransemen baru yang memadukan nuansa Latin klasik dengan pop modern. Setelah kolaborasi tersebut, Bad Bunny melanjutkan atmosfer romantis dan ritmis lewat lagu “Baile Inolvidable.”


Baca juga:ATEEZ Raih Prestasi Global Setelah Comeback


Ia kemudian membawa penonton ke perjalanan musikal berikutnya melalui “Nuevayol” sebelum beralih ke “Lo Que Le Pasó a Hawaii” bersama Ricky Martin. Kolaborasi ini memperkuat pesan persatuan budaya Latin di panggung global. Bad Bunny menegaskan identitasnya dengan anthem “El Apagón” dan “Café con Ron” yang menonjolkan kebanggaan Puerto Rico.

Sebagai penutup, ia menyalakan pesta besar melalui “DeBí Tirar Más Fotos” yang diiringi ledakan kembang api raksasa. Di sela pertunjukan, Bad Bunny juga meneriakkan “God bless America!” dan menyebut negara-negara di Amerika Latin sebagai bentuk penghormatan lintas budaya. 

Momen tersebut menegaskan bahwa musik dapat menjembatani identitas sekaligus merayakan keberagaman. Penampilan ini bukan pertama kalinya ia berada di panggung Super Bowl, karena sebelumnya ia sempat tampil membawakan “I Like It” bersama Jennifer Lopez dan Shakira pada 2020. 

Meski begitu, statusnya sebagai headliner utama tahun ini memicu perdebatan di kalangan konservatif yang menganggap pilihan tersebut kontroversial. Kritik bahkan muncul dari sejumlah tokoh politik yang mempertanyakan relevansi artis Latin di acara nasional Amerika.

Dilansir dari Rollingstone, Bad Bunny tetap memilih bersikap tenang di tengah gelombang kritik yang muncul. Dalam konferensi pers beberapa hari sebelumnya, ia menjelaskan bahwa prioritas utamanya adalah menonjolkan budaya Puerto Rico.

“Saya ingin membawa ke panggung, tentu saja, banyak dari budaya saya, tetapi saya tidak ingin memberikan bocoran,” ujarnya.

Ia juga menekankan sisi perayaan dalam penampilannya: “Ini akan menyenangkan dan akan menjadi sebuah pesta. Orang-orang hanya perlu fokus untuk menari.  Menurut saya, tidak ada tarian yang lebih baik selain yang datang dari hati.” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....