Tradisi Sinema Asia Modern, Pencinta Film Anime Berkumpul
- 05 Sep 2025 14:03 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Pada 2025 ini, para moviegoer serta pencinta film dan anime di Indonesia memadati bioskop-bioskop tanah air. Sebagian unjuk gigi dengan mengenakan cosplay karakter favorit mereka, sementara yang lain tampak antre membeli popcorn sambil membicarakan satu judul yang tengah hangat, "Demon Slayer: Infinity Castle" (2025).
Anime garapan studio Ufotable ini bukan sekadar hiburan semata, tetapi telah menjelma menjadi fenomena global, termasuk di Indonesia. Antusiasme terhadap film ini memang luar biasa. Di hari pertama penayangan saja, "Demon Slayer: Infinity Castle" berhasil meraih lebih dari 461.000 penonton, rekor pembukaan terbesar untuk film anime di Indonesia. Dilansir dari situs web Cinepoint, Jumat (5/9/2025), sebuah aplikasi rating film dan box office di Indonesia, per 29 Agustus 2025 kemarin, film ini telah ditonton lebih dari 2,28 juta orang, menjadikannya film anime terlaris sepanjang masa di Indonesia, melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh "One Piece Film: Red" (2022), dengan meraup lebih dari ratusan miliar.
Sekilas, Demon Slayer yang diadaptasi dari manga berjudul sama, mungkin tampak seperti pertarungan ala shounen pada umumnya: pahlawan muda, iblis jahat, teknik pedang hebat. Namun di balik itu terdapat nuansa tradisi Jepang yang kuat. Berlatar di zaman Taisho, anime ini memadukan nilai-nilai lama seperti kehormatan keluarga dan spiritualitas yang mengingatkan kita pada filosofi samurai, serta teknik pernapasan yang berakar pada disiplin diri.
Demon Slayer menunjukkan bagaimana cerita tradisional Jepang yang berakar pada nilai lama bisa disajikan dalam format modern. Hal itu didukung dengan sinematografi canggih dan visual efek yang memukau, membuatnya relevan bagi audiens global.
Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, sinema Asia, terkhusus dari China, Jepang, Korea, Thailand, hingga Indonesia, terus memperlihatkan taringnya dalam meracik warisan budaya menjadi kisah yang relevan bagi era modern. Tidak hanya dalam segi visual, tapi juga dalam kedalaman cerita yang menggambarkan bagaimana manusia berjuang dengan nilai-nilai lama yang masih membentuk, membatasi, atau bahkan memberikan arah dalam hidup mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....