Generasi Muda Terpukau Saksikan Wayang Wong "Jabang Tutuka"

  • 24 Agt 2025 12:14 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Generasi muda antusias melihat seni pertunjukan Wayang Wong Priangan dengan lakon “Jabang Tutuka” memadati Pendopo Kota Bandung, Sabtu malam (23/8/2025). Pertunjukan yang digarap para akademisi ISBI Bandung ini, berhasil memukau penonton melalui koreografer pemain yang atraktif dipadukan dengan kostum pewayangan gemerlap dan diiringi musik akulturasi (gamelan dan tecno), membuat penonton enggan untuk meninggalkan pendopo.

Pementasan Jabang Tutuka, diarahkan oleh generasi muda: Muhammad Mughni Munggaran, Tioba, Dery dan Ipin Pian, yang diinisiator oleh Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, M.Hum, berhasil membuat cerita klasik pewayangan ditransformasi menjadi cerita kekinian namun tidak menghilangkan esensi cerita dan tokohnya. Penonton terhanyut pada adegan kelahiran Jabang Tutuka yang kelak menjelma Gatotkaca, tokoh pahlawan sakti mandraguna.

Prof Een menerangkan, Wayang wong seni pertunjukan yang dimainkan manusia, pernah menjadi kebanggaan masyarakat Priangan. Namun, seiring perubahan sosial, pentas ini kian jarang ditemui di Jawa Barat. Kini, ISBI Bandung berupaya membangkitkan kembali tradisi yang hampir hilang itu.

“Pendopo ini pernah menjadi pusat seni dan budaya masyarakat Sunda. Kami ingin menghadirkan kembali napas sejarah itu, Wayang wong Priangan sudah hampir hilang. Harapan saya, anak-anak muda bisa menghidupkannya kembali, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga kebanggaan,” kata Prof. Een.

Kata Prof Een, mempopulerkan kembali seni pertunjukan wayang wong menghadapi tantangan besar di era saat ini. Sehingga harus menyesuaikan tradisi dengan ruang yang ada, sekaligus membacanya dengan kacamata generasi sekarang.

“Nah, garapan Jabang Tutuka ini, hasil transformasi sutradara muda Mughni Munggaran yang mengkonsep cerita dengan koreografer, musik dan pemain yang mengikuti tren generasi muda sekarang. Semoga Wayang wong bisa hidup lagi, bukan sekadar pementasan seremonial, tetapi hadir rutin di ISBI dan sekolah-sekolah,” tutur Een dengan penuh harap.

Hadir menyaksikan, Rektor ISBI Bandung, Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen, M.Hum., menegaskan arah kampus seni itu. “ISBI tidak ingin menjadi menara gading, melainkan menara air yang mengalir ke masyarakat. Melalui seni, kami ingin hadir di tengah kehidupan warga,” ucapnya.

Sejak 2023, ISBI aktif mendorong program agen pemajuan kebudayaan di berbagai daerah. Setelah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, kini Sumedang menjadi panggung berikutnya. Di Rancakalong, ISBI mem-branding sepuluh desa untuk dijadikan pusat budaya Sunda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....