Buya Yahya Jelaskan Cara Bertobat setelah Melukai Hati Orang Lain

  • 10 Jul 2026 09:36 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kesalahan kepada sesama manusia sering kali meninggalkan penyesalan yang mendalam. Tidak sedikit orang ingin meminta maaf, namun keadaan terkadang tidak memungkinkan karena orang yang pernah disakiti sudah meninggal dunia, sulit ditemui, atau dikhawatirkan justru akan memperburuk keadaan apabila dipertemukan.

Dalam tayangan yang diunggah melalui kanal YouTube resminya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan bahwa tobat atas kesalahan kepada sesama manusia memiliki pembahasan yang berbeda dengan tobat atas dosa kepada Allah SWT.

Menurut Buya Yahya, setiap orang yang ingin bertobat harus memenuhi tiga syarat utama, yakni berhenti dari perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Namun, apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan sesama manusia, meminta maaf menjadi bagian penting dalam proses penyelesaiannya.

Meski demikian, Buya Yahya menegaskan bahwa meminta maaf juga memerlukan kebijaksanaan. Jika permintaan maaf secara langsung justru berpotensi menimbulkan kemarahan yang lebih besar atau memperkeruh keadaan, seseorang tidak harus memaksakan diri untuk melakukannya.

Sebagai gantinya, ia menganjurkan agar orang yang bersalah memperbanyak istigfar kepada Allah SWT untuk dirinya sendiri sekaligus mendoakan orang yang pernah disakiti. Buya Yahya mencontohkan doa sederhana, "Ya Allah, ampuni aku dan ampuni dia," sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT bagi kedua belah pihak.

Ia menjelaskan bahwa apabila orang yang pernah disakiti telah meninggal dunia atau benar-benar tidak memungkinkan untuk ditemui, doa dan permohonan ampun kepada Allah SWT tetap dapat menjadi ikhtiar untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.

Khusus untuk kesalahan berupa ghibah atau menggunjing, Buya Yahya menyarankan agar pelaku tidak hanya memohonkan ampun kepada Allah SWT untuk orang yang pernah digunjing, tetapi juga menyebutkan kebaikan orang tersebut di lingkungan tempat ia dahulu pernah membicarakan keburukannya.

Dalam kesempatan yang sama, Buya Yahya juga mengingatkan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan akhlak yang baik. Menurutnya, kebenaran tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap kasar atau menyakiti hati orang lain.

"Al-haq dibungkus dengan al-akhlak," ujar Buya Yahya, yang mengingatkan bahwa kebenaran hendaknya disampaikan dengan akhlak yang mulia.

Selain membahas hubungan antar sesama manusia, Buya Yahya juga menyinggung tobat dari dosa maksiat yang dilakukan bersama orang lain. Ia menekankan pentingnya memutus hubungan yang dapat membawa kembali kepada kemaksiatan, menjauhi lingkungan yang menjadi penyebabnya, serta bersungguh-sungguh memperbaiki diri kepada Allah SWT.

Melalui penjelasan tersebut, Buya Yahya mengajak umat Islam agar tidak menunda tobat. Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, seseorang juga dianjurkan berusaha memperbaiki dampak kesalahannya kepada sesama sebagai bentuk penyesalan yang tulus dan ikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....