Tragedi Jembatan Pasupati, Saatnya Kota Harus Lebih Peka

  • 28 Feb 2026 12:52 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung-Di atas Jembatan Pasupati, kendaraan melaju tanpa henti. Ia dibangun untuk mempercepat perjalanan, memendekkan jarak antara barat dan timur Kota Bandung.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, jembatan ini pernah menjadi lokasi peristiwa bunuh diri, kasus tragis yang menyita perhatian publik.

Bukan jumlahnya yang paling penting untuk diingat, tetapi pesan yang tersisa dari setiap kejadian itu.

Di ruang setinggi puluhan meter itu, seseorang pernah berdiri sendirian dengan beban yang mungkin tak terlihat oleh siapa pun. Di bawahnya, kota tetap sibuk. Di atasnya, keputusan bisa terjadi dalam hitungan detik.

Kuncinya sering sederhana, pendekatan manusiawi. Mendekat perlahan. Mengajak bicara. Memberi waktu. Memberi rasa bahwa ia tidak sendirian.

Karena krisis psikologis sering datang seperti gelombang mendadak—intens, tapi tidak selalu permanen. Jika dalam momen itu ada empati, peluang untuk selamat jauh lebih besar.

Pasupati hari ini tetap menjadi infrastruktur penting. Tetapi ia juga mengingatkan kita bahwa kota bukan hanya soal beton, lampu, dan arus kendaraan. Kota adalah tentang warganya—termasuk mereka yang sedang rapuh.

Mungkin yang perlu diperkuat bukan hanya pagar pengaman atau patroli. Tetapi juga budaya saling peduli.

Jika Anda melihat seseorang yang tampak gelisah di ruang publik, sapaan sederhana bisa berarti besar.

Jika Anda sendiri sedang merasa terhimpit, berbicara kepada orang terdekat atau profesional bukanlah tanda lemah—itu langkah berani. Pasupati tetap berdiri kokoh. Kini, tantangannya adalah memastikan tak ada lagi yang merasa harus berdiri sendirian di atasnya.

Penulis : Soleman Yusuf

Rekomendasi Berita