Berkah Berjualan Bubur, Yuni dan Eko Mampu Menghidupi Keluarganya

  • 20 Feb 2026 11:20 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kota Kembang Bandung terkenal dengan kulinernya. Salah satu kuliner yang khas dari Bandung adalah bubur ayam.

Ini makanan yang paling banyak di konsumsi oleh masyarakat Bandung. Enak di santap di pagi hari.

Tidak jauh dari kantor RRI Bandung, tepatnya di sebelah Pusat Dakwah Islamic Center (Pusdai) Jawa Barat, banyak pedagang-pedagang kecil yang menjajakan dagangannya. Ada kupat tahu, soto Gombong, gorengan, kue basah, cakue, mie ayam, batagor, dan tidak ketinggalan bubur ayam serta lontong kari.

Penjual bubur ayam di tempat itu, mbak Yuni namanya, bercerita tentang bagaimana perjuangannya dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya. Dari Jawa Tengah merantau ke Bandung untuk mengadu nasib.

Awalnya ia membantu adik iparnya berjualan soto Gombong . “Aslinya saya dari Jawa Tengah ke Bandung. Awalnya membantu adik ipar berjualan soto Gombong di beleah situ,”ucapnya kepada RRI belum lama ini.

Lalu ia mencoba untuk hidup mandiri dengan jualan baso ikan di sekitar Gasibu Bandung. “Terus saya jualan baso ikan di Gasibu Bandung, laris sih tapi jualannya kan seminggu sekali,” ujarnya.

Meskipun berjualan baso ikan laris manis tetapi karena hanya seminggu sekali, maka ia mencoba peruntungan lain. Beralihlah ia ke berjualan bubur ayam dan lontong kari.

Mulai berjualan bubur ayam ini sejak tahun 2022. “Kalau jualan bubur ayam baru tiga tahun sih,”ucapnya.

Sejak saat itu hingga kini ia masih tetap eksis usaha dibidang itu. Berjualan setiap hari dari jam 5 pagi hingga jam 2 siang. Bermodalkan Rp.200 ribu, lebih mbak Yuni mendapatkan omset Rp.300 ribu hingga Rp.400 ribu .

Bahkan jika penjualan sedang ramai omset dari jualan bubur dan lontong kari ini bisa mencapai Rp.1juta. “Kadang kalau pas ada event jualannya ramai penghasilan bisa sampai satu juta,”ujarnya. Sudah tidak asing lagi yang namanya usaha, terkadang ramai namun juga terkadang sepi. Itu bukan masalah bagi ibu muda ini.

Ia tetap tekun menjalani usahanya. Usia mbak Yuni saat ini 28 tahun, memiliki dua anak laki-laki. Yang satu berusia 8 tahun, yang satunya lagi berusia 5 tahun. Saat berjualan mbak yuni dibantu oleh suaminya Eko yang usianya terpaut sekitar 14 tahun darinya.

Kerja sama yang baik antara suami istri ini mampu menghidupi kedua anaknya. Bahkan mbak Yuni bisa membeli sebidang tanah seharga Rp.150 juta dari hasil usahanya ini.

Di bulan puasa mbak Yuni tidak berjualan bubur, namun usaha ia alihkan ke penjualan cireng dan es. Dengan begitu pundi-pundi rupiah masih tetap ia dapatkan.

Di akhir ceritanya mbak Yuni menyampaikan kata-kata motivasi bagi mereka yang masih jatuh bangun dalam mengais rejeki. “Kalau usaha mah jangan ragu dan jangan mudah menyerah, soalnya yang namanya usaha mah kadang ramai kadang sepi, jadi jangan menyerah terus di jalani dan tetap semangat aja,”ucap dia.

Rekomendasi Berita