Jualan Sandal dan Kerupuk dari Instansi ke Instansi ‎

  • 08 Des 2025 10:05 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Di tengah kesibukan perkantoran di wilayah Bandung Raya, sosok Atep Kurniawan menjadi pemandangan yang akrab. Pria kelahiran Bandung itu telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk menjajakan sandal, sepatu, hingga aneka makanan ringan dari satu instansi ke instansi lainnya.

Bukan sekadar mencari nafkah, baginya ini adalah warisan profesi dari sang ayah sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak tahun 1992. ‎Atep mengenang awal mula mengenal dunia jualan.

“Berjualan dulu pernah lama. Tahun ‘92-an lah,” tuturnya. Saat itu ia masih ikut sang ayah yang sering merantau jauh untuk menjual sandal dan sepatu, bahkan hingga ke Bali, Surabaya, Aceh, dan Papua. “Jauh, Jauh. Bapak-bapak ke Irian, ke Aceh. Jualan sandal sepatu,” ujar Atep, senin(8/12/2025).

‎Pengalaman menemani ayahnya berkeliling membuat Atep terbiasa dengan kehidupan pedagang keliling. Setelah tamat sekolah, ia mulai mandiri.

‎“Ikut sampai tahun 2020 ikut bapak jualan. Berarti merantau ya? Merantau. Terakhir pas ada kejadian di Bali itu berhenti. Sekarang jualan di Bandung. Udah sekitar 20 tahun jualan,” ucapnya.

‎Dalam kesehariannya, Atep berkeliling ke berbagai instansi di Bandung Raya. Tidak hanya ke kantor pemerintahan, ia bahkan kerap menawarkan dagangannya hingga ke area Balai Kota Bandung, termasuk kepada para wartawan.

‎Kini rutenya lebih banyak di wilayah Cimahi dan Bandung. “Kalau sekarang-sekarang mah ke Polres Cimahi, ke Samsat Cimahi. Ke Pajajaran, Sabse Pajajaran, Bandung Timur, Kawaluyaan. Jalurnya pindah-pindah tiap hari,” jelasnya.

Baca juga : Anugerah Guru Pelopor: Nunung Nurmalasari Maestro Sinden Inovatif

‎Barang yang dibawa pun tidak selalu sama,“ Kadang bawa makanan, ganti-ganti. Kadang kremes, kadang abon. Tergantung barang ada apa,” katanya.

‎Jika membawa sandal atau sepatu, Atep biasanya membawa sekitar 15 pasang per hari. Namun penjualan tidak menentu.

‎“Kadang lakunya lima, kadang delapan,” ucapnya. Barang-barang itu ia ambil dari pengrajin di Cibaduyut. Dulu sistemnya komisi, tetapi kini ia harus membeli putus. “Itu risiko jualan. Kalau nggak habis ya disimpan, ditambah lagi ukurannya, ditukar lagi sama yang punya,” ucapnya.

‎Sejak 2020, Atep mulai rutin menjual kerupuk dan makanan ringan. Alasannya sederhana: penjualan sandal dan sepatu mulai sepi peminat. Makanan ringan lebih cepat habis,“ Kerupuk mah seminggu habis, kadang tiga hari habis. Perputarannya cepat,” jelasnya.

‎Soal pendapatan, Atep mengaku tidak selalu stabil. “Pendapatan paling sekitar seratus ribu bersih sehari dari makanan. Kalau sepatu bisa dua ratus sampai dua setengah. Tergantung omset, sekitar 30 persenan lah,” ungkapnya.

‎Baginya, ramai sepinya penjualan bukan lagi kejutan. “Tanggal muda, tanggal tua mah sama aja. Paling ramai pas bulan Ramadan,” tambahnya.

‎Di balik perjuangannya, Atep menanggung kebutuhan keluarga. Ia memiliki tiga anak. “Paling gede udah lulus SMA. Dua lagi masih SMA, beda dua tahun,” katanya.

‎Penghasilan yang tidak menentu sering membuatnya harus pandai mengatur keuangan. “Kadang cukup, kadang nggak cukup. Tapi dicukup-cukupin buat makan sehari-hari, buat anak sekolah,” ucapnya.

‎Meski sudah lama berjualan, Atep masih menyimpan impian. Ia ingin memiliki modal untuk membuka usaha sendiri di rumah. “Pengen buka usaha makanan atau warungan kecil. Pengen punya modal sendiri,” katanya.

‎Masuk ke area instansi bukan selalu mudah. Meski sudah terbiasa sejak kecil ikut ayahnya, Atep tetap sering mengalami penolakan.

‎“Pernah ada yang ngelarang. Ya wajar. Kadang nggak boleh masuk. Tapi namanya usaha, dicoba lagi,” katanya.

‎Meski begitu, ia tetap bersyukur masih bisa berkeliling mencari nafkah dengan cara yang ia kenal sejak kecil. Bagi Atep, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi jalan hidup yang ia jalani dengan penuh ketekunan.

Rekomendasi Berita