Tukang Cukur Asgar Mengais Rezeki di Cimahi ‎

  • 06 Nov 2025 14:45 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Di sebuah kontrakan di Jalan Daeng Ardiwinata, Kota Cimahi, terdengar suara khas “cetek… cetek…” gunting rambut. Di sudut jalan yang bersisian dengan gang listrik itu, berdirilah sebuah bangunan sederhana dan cermin yang menjadi saksi perjuangan seorang perantau asal Garut bernama Uum (30).

‎Sudah 27 tahun lamanya Uum menekuni profesi sebagai tukang cukur, profesi yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, tapi baginya adalah jalan hidup. Ia berasal dari Samarang, Kabupaten Garut, daerah yang memang dikenal sebagai kampung para tukang cukur atau yang lebih populer disebut “Asgar” (Asli Garut).

‎“Dulu waktu di kampung ikut pelatihan cukur dulu, diajarin sama orang yang udah pengalaman. Kalau udah bisa, baru merantau. Saya akhirnya ke Cimahi dan kerja sampai sekarang,” ujar Uum sambil merapikan rambut pelanggannya, Kamis (6/11/2025).

‎Menjadi tukang cukur bagi Uum bukanlah sekadar mencari nafkah, tetapi juga bentuk kebanggaan. Ia sudah memegang gunting sejak remaja. Setelah merasa cukup mahir, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan mencoba peruntungan di kota.

‎“Pertama-tama ya berat, nggak punya pelanggan tetap, kadang sehari cuma dapat satu dua orang. Tapi lama-lama orang percaya. Sekarang sehari bisa 10 sampai 15 orang yang datang. Dari anak kecil sampai orang tua, ada juga yang minta model rambut modern,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga : Putra Tasikmalaya jadi Juri di “Event” Koi Internasional

‎Setiap hari, Uum membuka jasa cukurnya sejak pagi hingga menjelang malam. Di balik kesederhanaan bangunan di pinggir jalan ‎Daeng Ardiwinata, Kota Cimahi, ia menghadirkan kehangatan bagi para pelanggan yang datang silih berganti sebagian datang untuk dicukur, sebagian lagi sekadar bercerita melepas penat.

‎Meski telah puluhan tahun menekuni profesi ini, penghasilannya masih sangat bergantung pada jumlah pelanggan. Dalam sehari, Uum bisa mengantongi sekitar Rp100 ribu bersih, setelah sistem bagi hasil dengan bosnya.

‎“Kalau lagi rame, kayak Sabtu sama Minggu, bisa lebih dari seratus ribu. Tapi kalau lagi sepi, ya pas-pasan aja. Namanya juga rezeki, yang penting halal,” katanya dengan nada ikhlas.

‎Bagi Uum, uang bukan segalanya. Yang terpenting, ia masih bisa bertahan hidup di kota dan tetap mengirim sebagian hasilnya ke keluarga di kampung halaman.

“Saya kerja di sini, tapi hati masih di Garut. Kadang kalau rindu, pulang sebentar. Tapi nggak bisa lama, pelanggan udah nunggu,” ucapnya.

‎Profesi tukang cukur dari Garut memang sudah menjadi legenda tersendiri di dunia perantauan. Di hampir setiap kota di Indonesia, mudah ditemukan plang bertuliskan “Tukang Cukur Asgar”. Julukan ini bukan hanya label daerah asal, tapi juga simbol ketekunan dan kerja keras.

‎“Kita orang Garut udah terbiasa kerja di luar daerah. Tukang cukur itu udah kayak tradisi. Ada yang di Jakarta, Bandung, Bekasi, sampai Kalimantan juga ada,” tutur Uum bangga.

‎Ia mengaku, meskipun zaman sudah berubah dan banyak barbershop modern bermunculan, pelanggan tetap datang ke lapaknya karena alasan sederhana: keakraban dan kepercayaan. ‎“Kalau di sini, orang bisa ngobrol bebas. Kadang pelanggan malah curhat, cerita masalah keluarga, kerjaan, sampai politik juga,” ujarnya sambil terkekeh.

‎Meski usianya masih tergolong muda, Uum sudah menatap masa depan dengan penuh kesadaran. Ia ingin suatu hari nanti memiliki kios cukur sendiri, lengkap dengan kursi modern dan kaca besar. Tapi untuk saat ini, ia memilih menikmati prosesnya.

‎“Yang penting bisa terus kerja dan sehat. Selama tangan masih bisa pegang gunting, saya nggak akan berhenti nyukur,” ucapnya.

‎Menjelang sore, Uum membereskan gunting, sisir, dan alat cukurnya satu per satu. Di wajahnya terselip kelelahan, tapi juga kebanggaan. Di balik tiap potongan rambut yang berjatuhan, tersimpan kisah tentang ketekunan, pengorbanan, dan cinta pada profesi kisah seorang Asgar sejati yang membangun hidupnya lewat sepasang gunting dan cermin kecil di pinggir jalan Cimahi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....