Cosplay Jalanan di Bandung, Jalan untuk Menyambung Hidup
- 11 Okt 2025 08:43 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Sore hari yang panas di Bandung pada awal Oktober, Taufik (54)memasangkan pakaian Batman berbahan spons di tubuhnya. Tujuannya untuk menghibur wisatawan ataupun orang yang melintas di Jalan Asia Afrika sekaligus mencari pundi-pundi Rupiah untuk keperluan hidupnya.
Taufik merupakan satu dari sekian banyak orang yang hidup dari Costum Play (Cosplay) jalanan di daerah tersebut, suasana jalan Asia Afrika setiap harinya selalu ramai, trotoar jalan tersebut kerap dihiasi para Cosplayer dengan berbagai tokoh yang diperankan. Ada superhero seperti Spiderman dan Batman, ada karakter anime seperti Naruto dan Luffy, bahkan ada juga yang mengenakan kostum hantu seperti kuntilanak dan pocong.
Mereka menghabiskan siang hingga malam di jalan itu, tersorot panasnya matahari, kena tiup angin malam, hingga terguyur hujan sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Semua dilakukan dengan balasan bayaran seikhlasnya dari orang-orang yang mengajak mereka berfoto.
| Baca juga: Sejarah Tapereel Dunia dan Jejak Langkah RRI |
"Biasanya wisatawan ngajak foto, ngasih uang seiklahsnya, pendapatan tidak menentu kalau hari biasa sekitar 30 hingga 40 ribu Rupiah, kalau weekend lumayan buat jajan anak saya bisa," ujar Taufik sembari tertawa.
Taufik sudah menekuni profesi ini sejak tahun 2018 lalu, hal ini ia lakukan setelah pabrik konveksi tempatnya bekerja dulu berhenti beroperasi dan harus merumahkan banyak pekerjanya.
"7 tahunan dari 2018, sebelumnya kerja jadi di pabrik konveksi, terus konveksinya tutup, saya langsung kesini karena sebelumnya ada saudara yang Cosplay disini jadi saya ikutan sampai sekarang," katanya menjelaskan.
Menjadi seorang cosplayer jalanan, memberi banyak rasa suka sekaligus duka. Menghibur wisatawan menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka, namun rasa lelah memang tak terhindarkan ketika harus berdiri dengan waktu yang lama dibawah cuaca yang tak menentu.
"Ada senangnya ada sedihnya, senangnya sambil menghibur orang sambil cari uang, kalau dukanya ya itu capek soalnya kalau hari biasa jam 4 sore sampai malam jam 9, kalau akhir pekan bahkan bisa sampai jam 11 malam, kena panas kena hujan ya sudah biasa," katanya dengan tatapan berjuta makna.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan di Kota Bandung, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di tahun 2025 berada pada angka 6,36 persen. TPT merupakan indikator persentase angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja.
| Baca juga: Evolusi Instrumen Akordeon Dari Masa ke Masa |
Sementara TPT Kota Bandung pada tahun 2018 ketika Taufik terpaksa berhenti dari pekerjaanya di pabrik berada pada angka 5,07 persen. Artinya selama 7 tahun tersebut angka ini terus mengalami kenaikan, lapangan kerja semakin sulit dengan banyaknya industri yang kolaps seperti industri tekstil dan konveksi yang Taufik lakukan sebelum menjadi Cosplayer jalanan.
Beberapa tahun belakangan ini, industri tekstil dan konveksi menghadapi badai yang besar, menurut data dari Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI), selama dua tahun terakhir sebanyak 60 perusahaan tekstil dalam negeri terguncang. Hal tersebut mengakitbatkan sekitar 250 ribu karyawannya harus dirumahkan.
Kendati kondisi yang tengah sulit dalam menemukan pekerjaan, Taufik dan puluhan cosplayer jalanan di Jalan Asia Afrika lainnya tak menyerah dan menemukan cara yang kreatif untuk tetap menghasilkan uang dan menyambung hidup.
Walaupun pekerjaan ini harus berhadapan dengan rasa lelah dan bertarung dengan cuaca yang tak menentu, Taufik dan teman-temannya senantiasa ikhlas memberikan warna dan hiburan di jalan yang menjadi salah satu pusat wisata Kota Bandung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....