Harum Kue Putu, Kisah Perjuangan Samsul Pedagang Keliling

  • 01 Okt 2025 15:37 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Siapa yang tidak mengenal kue putu, Kue tradisional dengan warna hijau muda, berisi gula merah yang manis, dan disajikan bersama taburan kelapa parut ini masih setia menemani lidah masyarakat meski zaman terus berubah.

Suara khas “tuuut… tuuut…” dari cetakan bambunya seakan menjadi panggilan nostalgia yang membawa orang kembali pada kenangan masa kecil.

Di tengah gempuran jajanan modern, kue putu tetap punya tempat tersendiri. Hanya dengan seribu rupiah per biji, aroma pandan yang harum berpadu dengan legitnya gula merah, membuat siapa saja sulit menolak.

Namun, di balik kelezatan sederhana itu, tersimpan kisah perjuangan hidup. Seperti yang dialami Samsul (40), pedagang kue putu keliling asal Brebes yang berjulan sudah 17 tahun kini merantau di kota Cimahi.

Samsul memutuskan merantau ke kota Cimahi demi mencari penghidupan yang lebih baik. Dua anaknya masih duduk di bangku sekolah di kampung, sementara istrinya setia menunggu kepulangannya. 

Untuk menopang hidup, ia tinggal bersama rekan-rekan seprofesinya di sebuah kontrakan sederhana di kawasan Citeureup, Cimahi. Satu rumah ditempati bersama, dengan biaya sewa Rp750 ribu per bulan yang ditanggung patungan.

“Kalau di kampung, kerjaan susah. Jadi ya merantau, jualan putu. Biar bisa nyekolahin anak-anak,” ujar Samsul sambil mengisi adonan kue hijau ke dalam cetakan bambu," ujar Samsul, Senin, 1 Oktober 2025.

Setiap sore, sekitar pukul 15.30, Samsul keluar dari kontrakan dengan tanggungan kecilnya. Ia berkeliling gang, perumahan, hingga kawasan padat penduduk di kota Cimahi. Suara khas uap kue putu menjadi penanda kehadirannya.

Pulangnya, Kadang jam 20.30, kadang lewat pukul 21.00 malam. Semua tergantung ramai atau sepinya pembeli. Dalam sehari, penghasilannya tak menentu.

“Bersih ya paling seratus ribu, kadang kalau lagi bagus bisa dua ratus ribu lebih. Tapi kalau sepi, ya pas-pasan,” ucapnya.

Meski begitu, ia tak pernah mengeluh. Hasil yang terkadang pas-pasan tetap ia syukuri. Baginya, yang penting bisa makan, bayar kontrakan, dan sebagian lagi ditabung untuk anak-anaknya di kampung.

Meski pekerjaannya melelahkan, Samsul mengaku merasa tenang bisa hidup dari hasil kerja kerasnya sendiri. Baginya, suara uap putu bukan sekadar tanda kue matang, tetapi juga irama perjuangan hidup.

“Cukup nggak cukup ya harus cukup. Yang penting ada buat anak, bisa buat sekolah, ada buat makan sehari-hari. Sisanya ya ditabung sedikit-sedikit,” katanya dengan senyum lelah.

Bagi Samsul, kue putu bukan hanya dagangan, tapi jalan untuk mewujudkan cita-citanya, menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses dan kelak bisa punya kehidupan lebih baik dari pada dirinya.

Di tengah kota yang semakin modern, kehadiran pedagang kue putu seperti Samsul menjadi pengingat bahwa tradisi masih hidup. Setiap gigitan kue putu bukan hanya soal rasa manis gula merah dan gurih kelapa, tapi juga tentang keteguhan hati seorang ayah yang rela berkeliling demi masa depan anak-anaknya.

Harum uap bambu, denting peralatan, dan semangat para penjual keliling adalah bukti bahwa warisan kuliner tradisional ini akan tetap ada, selama masih ada sosok-sosok tangguh seperti Samsul yang menjaga nyalanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....