Sarwan Pedagang Batagor, Tak Pernah Rasakan Manisnya Bansos

  • 22 Sep 2025 21:19 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Pagi itu di Antapani, Kota Bandung, jalanan gang masih basah usai diguyur hujan semalam. Di sudut rumah sederhana berdinding bata, sebut saja namanya Sarwan seorang pedagang batagor berusia 51 tahun, tengah menyiapkan gerobaknya.

Minyak panas berdesis, adonan batagor digoreng satu per satu. Namun di balik kesibukan kecil itu, ada cerita getir yang ia simpan.

Sejak pandemi melanda, usahanya semakin sepi. Penghasilannya yang dulu bisa menutupi kebutuhan keluarga, kini nyaris tak cukup untuk membeli beras.

Sarwan berharap bantuan sosial dari pemerintah bisa menjadi penolong. Tapi harapan itu tak pernah datang. Namanya tak pernah ada dalam daftar penerima.

Ironisnya, beberapa orang tetangga yang lebih mampu, justru rutin mendapat bansos. “Saya hampir lupa kalau ada program bantuan, karena memang tak pernah merasakan,” ujarnya pelan.

Baca juga : Cendol dan Cincau Hijau, Minuman Khas Sunda Legendaris

Ia mengaku hanya mendengar kabar dari orang lain, tanpa pernah menerima penjelasan resmi. Sosialisasi di lingkungannya minim, informasi tentang siapa yang berhak dan bagaimana cara mendapatkannya pun tidak jelas.

Di Jawa Barat, data resmi Badan Pusat Statistik mencatat lebih dari 3,8 juta jiwa masih hidup dalam kemiskinan. Namun kesalahan data penerima bansos membuat banyak warga yang sebenarnya berhak justru tercecer.

Sarwan kini hanya bisa bergantung pada gerobak batagornya. Dalam sehari, jika beruntung, ia membawa pulang Rp. 100 ribu.

Jika sepi, tak sampai separuhnya. Istrinya membantu dengan menerima jahitan kecil-kecilan.

Bagi Sarwan, bantuan itu bukan sekadar uang atau beras, tapi pengakuan bahwa negara hadir di tengah kesulitannya. Menjelang sore, ia mendorong gerobaknya pulang.

Tangannya letih, wajahnya pasrah, namun ia masih menyimpan harapan. Di balik suara minyak panas dan riuh jalan Antapani, kisah Sarwan adalah potret banyak warga miskin di Jawa Barat.

Mereka yang terus berjuang, meski sering terabaikan.

(Penulis: Soleman Yusuf)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....