Sehari di Punggung Cecep
- 19 Sep 2025 11:09 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Pagi masih muda ketika Cecep (27) menuruni tangga basement Pasar Baru. Di lorong yang lembap dan remang, ia membentangkan karung bekas di sudut tembok. Itulah “kantornya”, tempat ia duduk berjam-jam menunggu orang yang butuh tenaganya.
"Ngangkut seharian, paling dapat 30 ribu, itu juga udah bagus. Kalau dulu bisa sampai 50 ribu." Ujarnya getir.
Sudah hampir lima belas tahun Cecep menjadi kuli panggul. Tamat SD, ia langsung ikut teman-temannya bekerja di pasar. Sekali angkut, upahnya sepuluh ribu rupiah. Kalau barangnya besar dan berat, kadang bisa lebih. Tapi semua tergantung kemurahan hati pedagang. Tak ada tarif resmi.
Pagi itu seorang pemilik toko tas di lantai dua memanggilnya. Kardus-kardus besar harus diantar ke pintu depan untuk dikirim lewat ekspedisi. Cecep mengikat tali tambang ke bahunya, tubuhnya membungkuk, wajahnya tegang menahan beban. Lima belas menit kemudian, keringat membasahi kausnya. Pedagang itu memberinya selembar uang lusuh, sepuluh ribu rupiah. Cecep tersenyum tipis, meski dalam hati berharap lebih.
Menjelang siang, pasar makin padat, tapi panggilan untuk kuli tidak seramai dulu. Bersama Oha, kuli sepuh berusia tujuh puluh satu, Cecep duduk bersandar di tembok. Mereka makan nasi dengan dua gorengan, hasil patungan. Perut kenyang seadanya, cukup untuk bertahan.
Sore hari, sebuah televisi kecil di kios sembako menyala. Para kuli ikut menonton. Layar menampilkan keterangan berita gaji dan tunjangan pejabat yang mencapai puluhan juta rupiah. Ia menghitung dalam hati, untuk menyamai sebulan gaji pejabat, ia harus mengangkut ribuan kardus, mungkin seumur hidup pun tak akan cukup.
Tapi yang membuatnya tercekat bukan sekadar angka. Ditelevisi seorang pejabat justru mengeluh, tunjangan rumah dinas yang diterimanya dianggap tidak mencukupi. Cecep memandang uang receh di genggamannya: hasil tiga kali panggilan hari itu, hanya tiga puluh ribu rupiah. Dari jumlah itu, sebagian untuk membeli beras, sebagian lagi untuk ongkos pulang ke petak kontrakan kecil tempat istri dan dua anaknya menunggu.
Di lorong pasar yang sepi, kontras begitu telanjang. Seorang kuli panggul yang hidup dari sepuluh ribu per sekali angkut, dan para pejabat yang masih merasa tunjangannya tak cukup.
(Penulis Soleman Yusuf)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....