KBRN, Bandung: Udara pagi masih sejuk saat Bu Yayah, seorang ibu rumah tangga di Cihaurgeulis, Kota Bandung, melangkah keluar rumah membawa tas belanja kain. Jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB.
Yayah pun melangkahkan kakinya menuju pasar Cihapit Kota Bandung, dengan membawa bekal Rp.100 ribu untuk belanja kebutuhan makan keluarga. Suami Yayah bekerja sebagai buruh serabutan tukang bangunan.
Bekal yang dibawanya, harus cukup untuk belanja kebutuhan makanan bagi suami, dua anaknya yang duduk di bangku SD dan SMP, dan seorang ibu sepuh menanti di kursi kayu reyot.
Tiba di pasar Cihapit, langkah Yayah terhenti di lapak pedagang beras. Harga beras medium kini Rp14.500 per kilogram, dan untuk lima kilogram saja sudah menghabiskan Rp72.500.
Yayah menghela nafas panjang. Harga harga kebutuhan pokok di pasar Cihapit melambung tinggi.
Melirik ke arah ayam potong, ia menahan napas. Harga Rp42 ribu per kg, terlalu mahal untuk dompetnya yang kian menipis.
"Terlalu mahal,"katanya dalam hati.
Keningnya pun berkerut. Uang bekal yang ia bawa, harus cukup untuk membeli kebutuhan. Cabai rawit merah yang dulu sering menghiasi dapurnya, kini hanya bisa dilihat dari kejauhan, Rp, 90 ribu per kgnya.
Yayah hanya membeli beberapa ons cabai hijau seharga Rp. 12.000. Sisa uang hanya cukup untuk tempe Rp 5.000 dan sayur kangkung Rp 3.000.
“Dulu seratus ribu masih bisa untuk dua sampai tiga hari,” gumamnya lirih dalam hati. “Sekarang, sehari saja sudah ngos-ngosan,"ucapnya kembali.
Menjelang sore, suaminya pulang dengan langkah berat dari proyek bangunan di Antapani. Upah harian Rp120.000 tak lagi pasti, kadang seminggu hanya bekerja tiga hari.
Belum sempat istirahat, anak SMP-nya yang baru pulang sekolah mendekat dengan selembar kertas di tangan. “Bu, uang ekstrakurikuler harus dibayar, Rp.50 ribu,” katanya pelan.
Yayah terdiam. Dalam pikirannya, angka-angka saling bertubrukan, belanja, tagihan, sekolah, makan, dan sisa tabungan yang tinggal kenangan.
“Kalau semua kebutuhan naik, gaji suami tak menentu, tabungan habis… dari mana lagi harus gali lubang?,"ucapnya lirih.
Malam itu, ia menanak nasi dengan porsi lebih kecil, lauk hanya tempe dan sayur bening. Ia berusaha tersenyum di depan anak-anak, tapi di kamar ia meneteskan air mata.
(Penulis : Soleman Y)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....