Kerupuk Mie Rempah Aki Nin Tembus Pasar Modern

  • 15 Agt 2025 08:38 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Berawal dari kesulitan ekonomi pada 2017, kerupuk mie rempah buatan Pak Ahmad kini berkembang dan dikenal luas hingga masuk ke ritel modern berkat kualitas rasa dan inovasi berkelanjutan.

Inspirasi usaha kerupuk mie rempah lahir di tengah kondisi ekonomi sulit pada 2017. Berawal dari ide sederhana membeli cemilan bal-balan untuk dikemas kecil dan dititipkan di warung-warung, usaha ini tumbuh melalui doa dan kerja keras.

"Waktu itu puncaknya tahun 2017 ekonomi kami sangat prihatin, antara lain untuk biaya berkepanjangan putra sulung kami yang Disabilitas Cerebral Palsy. Kami lakukan berbagai ikhtiar diiringi do'a". Ujar Ahmad Owner Kerupuk Mie Aki & Nin kepada RRI, Jumat (15/8/2025).

Percobaan awal dilakukan di dapur dengan resep bumbu sederhana. Kerupuk disajikan pada acara Jumat Berkah, mendapat pujian dari warga yang mencicipinya. Resep ini pun mulai dikenal, meski beberapa orang mencoba menirunya.

"Eksperimen Dapur buat kerupuk mie dibumbu sederhana. Waktu itu disajikan saat acara makan bersama Jumat berkah. Alhamdulillah responnya sangat positif. Komennya enak semua". Tambah Ahmad.

Momen penting terjadi saat acara pernikahan anak sahabatnya di TMII, Jakarta. Kerupuk mie rempah justru menjadi cemilan favorit dibandingkan sajian mewah lainnya. Kesempatan ini mendorong Ahmad mendaftarkan produknya ke PIRT dengan proses yang panjang.

Setelah lolos pembekalan dan sertifikasi dari BPOM, Dinas Kesehatan, MUI, dan KADIN, produk ini mulai dipasarkan di Toko Soes Merdeka. Respon positif membuat penjualannya terus meningkat hingga merambah pasar modern dan berbagai ritel.

Kerupuk mie rempah dibuat dari bahan baku dan rempah asli Indonesia, diproses dengan standar mutu ketat termasuk pengaturan suhu minyak. Varian rasa meliputi original, gosong, bantat, hingga pedas gurih.

Dirintis pada Mei 2017, usaha ini sempat terkendala akhir 2024 akibat berkurangnya tenaga produksi dan distribusi. Omzet produk utama menurun menjadi sekitar Rp4,2 juta per bulan, namun Ahmad menutupinya dengan usaha suplai kerupuk udang dan reseller UMKM.

Dirinya berencana memperbaiki manajemen, mengembangkan kemitraan, dan memperluas distribusi ke ritel modern, toko oleh-oleh, rumah makan, serta instansi, demi mengembalikan performa bisnis seperti semula bahkan lebih besar.

Menurutnya, perbedaan utama kerupuk mie rempah terletak pada kualitas rasa, tekstur kriuk, dan fleksibilitasnya sebagai cemilan maupun pendamping nasi, yang membuatnya disukai berbagai kalangan dari anak-anak hingga lansia.

Ahmad menekankan, dalam berwirausaha harus berniat ibadah kepada Allah, memulai dari skala kecil, memberikan pelayanan terbaik, serta melakukan inovasi berkelanjutan agar usaha bertahan menghadapi persaingan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....