OJK Jawa Barat Luncurkan Bulan Literasi Keuangan, Ini Fokus Utamanya

  • 18 Mei 2026 12:36 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat resmi meluncurkan Bulan Literasi Keuangan yang dimulai pada 1 Mei , dengan puncak peringatan pada Hari Indonesia Menabung yang bertepatan dengan Hari Menabung Sedunia pada 14 Agustus 2024. Program ini menjadi momentum penting untuk mengakselerasi peningkatan literasi keuangan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, menjelaskan bahwa kegiatan literasi keuangan akan dilakukan secara masif melalui tiga pendekatan: tatap muka langsung, digital daring, dan hybrid. “Ada sepuluh komponen masyarakat yang menjadi sasaran, mulai dari ibu rumah tangga, UMKM, pelajar, mahasiswa, hingga kaum difabel. Khusus di Kota Bandung, titik berat program kami adalah difabel sebagai unggulan,” ujarnya. Senin 18 Mei 2026.

Darwisman menegaskan, keberhasilan program di Bandung diharapkan dapat direplikasi ke 26 kabupaten/kota lain di Jawa Barat, bahkan ke seluruh provinsi di Indonesia. “Kalau sukses di Bandung, kami yakin akan ditiru daerah lain. Kami ingin menjadikan Bandung sebagai model inklusi keuangan nasional,” katanya.

Ukuran keberhasilan program ini, lanjut Darwisman, akan dilihat dari frekuensi kegiatan edukasi literasi keuangan serta peningkatan akses masyarakat terhadap layanan keuangan. “Harapannya, masyarakat semakin mudah memahami dan mengakses layanan keuangan formal, sehingga kesejahteraan ekonomi bisa meningkat,” jelasnya.

Selain literasi dasar, OJK juga memasukkan edukasi terkait ancaman keuangan digital. “Paket literasi ini mencakup pencegahan scam, penipuan, judi online, pinjaman online ilegal, hingga investasi bodong. Empat isu ini menjadi perhatian serius di Jawa Barat,” tegas Darwisman.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan. OJK menggandeng pemerintah daerah, perbankan, dan seluruh industri jasa keuangan untuk memastikan literasi keuangan berjalan efektif. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak harus terlibat agar masyarakat terlindungi dari praktik keuangan ilegal,” katanya.

Darwisman juga menyinggung fenomena bank emok yang masih marak di Jawa Barat. Menurutnya, literasi keuangan yang kuat akan membantu masyarakat menghindari jeratan pinjaman informal yang merugikan. “Ini PR kita bersama. Dengan literasi, masyarakat bisa lebih bijak dan mandiri dalam mengelola keuangan,” ujarnya.

Dengan peluncuran Bulan Literasi Keuangan ini, Jawa Barat meneguhkan komitmen sebagai pionir dalam membangun ekosistem keuangan inklusif. Fokus pada difabel menjadi bukti nyata bahwa literasi keuangan bukan hanya soal angka, tetapi juga soal keadilan dan kesetaraan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....