Ketentraman Jiwa, Bukan Sekadar Tabungan: Cara Gen Z & Milenial Mengelola Uang
- 25 Mar 2026 12:40 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Ada kecemasan tertentu yang makin sering terjadi di zaman kita yang dinamis ini. Hampir semua orang atau setidaknya, media sosial membuat kita berpikir begitu tampaknya memiliki setidaknya satu pekerjaan sampingan atau hobi yang menguntungkan. Dan terlepas dari apakah Anda adalah bagian dari budaya kerja keras atau hustle culture, Anda pasti merasakan kegelisahan ini, bertanya pada diri sendiri, sudah cukupkan usaha Anda untuk mencari uang?
Jika Anda pernah merasakan ini, Anda tidak sendiri. Makin banyak data yang mencerminkan apa yang banyak anak muda Indonesia sudah tahu secara intuitif: keputusan finansial seringnya tidak hanya tentang uang. Keputusan tersebut lebih berkaitan dengan hal-hal yang lebih sulit diukur—stabilitas, identitas, dan perasaan bahwa segala hal, setidaknya secara umum, terkendali. Rabu 25 Maret 2026.
Menulis Ulang Aturan
Generasi Milenial, yang berusia 29 hingga 44 tahun, dan Gen Z, 13 hingga 28 tahun, tidak hanya beradaptasi dengan lanskap keuangan yang berubah. Mereka secara aktif membentuk kembali arti dari mengelola uang dengan baik. Menurut laporan 'Generasi Milenial & Gen Z Indonesia 2026' dari IDN Research Institute, kedua generasi tersebut menjauh dari penanda kesuksesan finansial tradisional kepemilikan rumah, rekening tabungan tetap, akumulasi jangka Panjang menuju sesuatu yang lebih personal dan berlandaskan nilai-nilai.
Perubahan ini bukanlah sesuatu yang abstrak. Perubahan terlihat dalam angka. Hanya 29% orang Indonesia berusia 25 hingga 34 tahun saat ini yang memiliki rumah, akibat uang muka yang tinggi, upah stagnan, dan perubahan prioritas keuangan yang disengaja. Hampir 10 juta orang keluar dari kelas menengah antara 2019 dan 2024. Kontrak sosial yang dulunya menjanjikan mobilitas ke atas melalui disiplin dan kesabaran kini tak lagi memberikan hasil yang sama dan anak muda Indonesia meresponsnya dengan penyesuaian kembali yang tenang dan terencana tentang seperti apa sebenarnya kesejahteraan finansial itu. Satu hal yang pasti: tren ini sama sekali tidak eksklusif untuk Indonesia justru merupakan cerminan dari pergeseran global yang lebih luas.
Ketentraman Jiwa Sebagai Prioritas
Salah satu poin data yang paling mencerminkan dalam laporan IDN Research Institute adalah ini: hanya 23% Gen Z Indonesia yang memiliki dana darurat tiga bulan, dibandingkan dengan 69% milenial. Sekilas, ini tampak seperti cerita tentang ketidakbertanggungjawaban finansial. Bukan.
Ini mencerminkan hubungan yang berbeda dengan ketidakpastian dan strategi yang berbeda untuk mengelolanya. Jika milenial menekankan keamanan dan tanggung jawab komunal serta cenderung membangun bantalan keuangan tradisional, Gen Z bereksperimen dengan apa yang disebut para peneliti sebagai 'tabungan lunak': memadukan tujuan pengeluaran emosional dan pengalaman dengan kebiasaan finansial yang didukung teknologi.
Bagi banyak anak muda Indonesia, menabung bukan sekadar membangun jaring pengaman, tetapi juga cara mendapatkan kembali rasa kendali di dunia yang tak terduga. Laporan tersebut mengidentifikasi prioritas tabungan utama di antara kelompok ini sebagai perawatan diri—baik untuk terapi, perawatan kulit, atau liburan, dan pengalaman bersama seperti konser dan acara penggemar. Ini bukanlah pilihan yang sembrono. Ini adalah, menurut laporan tersebut, infrastruktur emosional: pengeluaran yang membantu menjaga energi dan mencegah kehancuran dalam dunia yang jarang melambat.
Dalam konteks di mana 49% Gen Z perkotaan mengatakan mereka sengaja mengurangi pengeluaran, bukan hanya untuk menabung, tetapi untuk 'membersihkan mental', keputusan finansial dan keputusan psikologis dianggap sama persis.
Dalam beberapa kasus, perusahaan fintech mengikuti tren ini untuk mendukung perubahan perilaku dan aspirasi tersebut. Sebagai contoh, Elev8, broker global yang menyediakan layanan trading online, menyebutkan bahwa ekosistem trading-nya berfokus mengurangi beban mental dan membuat beban psikologis manajemen kekayaan tidak terlalu melelahkan.
Ketidakstabilan: Norma Baru
Ada cerita khusus yang secara implisit diceritakan budaya keuangan tentang seperti apa kehidupan finansial yang sehat: pertumbuhan stabil, penghasilan konsisten, portofolio yang bergerak ke satu arah. Cerita ini tidak sepenuhnya jujur dan kaum muda Indonesia mengecamnya.
Ketidakstabilan adalah ciri struktural dari momen ekonomi saat ini, memengaruhi trader ritel pemula serta manajer dana berpengalaman. Kaum muda Indonesia menghadapi ketidakstabilan pekerjaan, upah stagnan, dan kenaikan harga dalam ekonomi pasca-industri yang menawarkan lebih sedikit perlindungan daripada generasi sebelumnya. Strategi adaptasi bisa mencakup beralih ke gaya hidup minimalis dan mengeksplorasi pekerjaan sampingan tetapi masih banyak lagi.
Yang muncul menggantikan model lama adalah sesuatu yang digambarkan oleh IDN Research Institute sebagai keselarasan, bukan persetujuan: orientasi finansial yang memprioritaskan bagaimana merasakan kehidupan daripada bagaimana kehidupan tampak dari luar. Menurut laporan tersebut, kesuksesan bergeser dari apa yang Anda miliki menjadi bagaimana Anda menjalani hidup.
Jangkar Kecil
Seperti apa sebenarnya ketenangan finansial dalam praktiknya? Bagi sebagian besar kaum muda Indonesia, ini bukanlah restrukturisasi dramatis. Melainkan sesuatu yang lebih kecil dan lebih berkelanjutan.
Ini mungkin tampak seperti menggunakan perangkat keuangan digital untuk melacak pengeluaran dan mengurangi pemborosan—sesuatu yang makin digemari Gen Z, menyukai aplikasi anggaran dengan tujuan yang diubah menjadi permainan dan platform yang terkait dengan isu sosial atau lingkungan. Mereka juga memilih platform fintech cerdas yang mendukung pengambilan keputusan, di mana pengendalian finansial dianggap sebagai bentuk penguasaan diri, bukan pengekangan.
Hal-hal ini tidaklah revolusioner. Tak satupun dari hal-hal ini yang butuh disiplin sempurna atau pendapatan yang luar biasa. Ymenyatukan mereka adalah orientasi terhadap kestabilan menuju kehidupan finansial yang mendukung keseimbangan psikologis, bukan hidup yang terus-menerus mengujinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....