Seiring Waktu, Kereta Cepat juga Semakin Diminati Masyarakat

  • 05 Sep 2026 14:55 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Penggunaan jasa Kereta Cepat Indonesia China, KCIC Whoosh melayani 4.078.168 pelanggan, meningkat 0,68% dibandingkan 4.050.791 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Layanan kereta cepat tersebut memperkuat konektivitas Jakarta–Bandung dan terhubung dengan sejumlah layanan lanjutan, termasuk LRT Jabodebek di Halim dan KA Feeder menuju pusat Kota Bandung.

Sementara KAI Bandara melayani 4.647.947 pelanggan, meningkat 0,19% dibandingkan 4.639.062 pelanggan pada Januari–Agustus 2025. Kehadiran kereta bandara memperluas pilihan akses masyarakat menuju bandar udara sekaligus menghubungkannya dengan jaringan transportasi perkotaan dan antarkota.

"Di Sumatra Selatan, LRT Sumsel melayani 2.965.997 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2026. Layanan tersebut menghubungkan Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Stasiun DJKA di kawasan Jakabaring, melewati kawasan pusat Kota Palembang dan sejumlah pusat aktivitas masyarakat," ungkap VP Corporate Communication KAI, Anne Purba kepada RRI, Jumat 4 September 2026.

Anne menjelaskan, skala KAI Group memungkinkan masyarakat menggunakan beberapa jenis layanan kereta api dalam satu rangkaian perjalanan. Di Pulau Jawa, jaringan KA Jarak Jauh dan Lokal terhubung dengan layanan KAI Commuter, LRT Jabodebek, KAI Bandara, Whoosh, serta berbagai transportasi perkotaan pada stasiun-stasiun integrasi.

Keterhubungan tersebut terlihat antara lain di kawasan Halim, tempat LRT Jabodebek terkoneksi dengan Whoosh di kawasan Dukuh Atas yang mempertemukan Commuter Line, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, KA Bandara, dan TransJakarta; serta Bandung Raya melalui koneksi Whoosh dengan KA Feeder dan jaringan kereta lainnya. Di Sumatra, layanan kereta api juga menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat. Jaringan KA penumpang antarkota dan lokal melayani berbagai wilayah di Sumatra, sementara LRT Sumsel memperkuat transportasi perkotaan Palembang dan akses menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Keterhubungan tersebut memberikan pilihan perjalanan berbasis angkutan massal bagi masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata daerah.

“Setiap layanan mempunyai fungsi yang saling melengkapi. Kereta antarkota menghubungkan wilayah, commuter dan LRT melayani mobilitas perkotaan, kereta bandara menghubungkan perjalanan dengan transportasi udara, sedangkan Whoosh memperkuat perjalanan antarkawasan metropolitan. Integrasi inilah yang terus kami kembangkan agar perpindahan masyarakat semakin efisien dan mudah,” kata Anne.

Sejalan dengan mobilitas penumpang, KAI turut mendukung rantai logistik nasional. Sepanjang Januari–Agustus 2026, KAI melayani 36.854.758 ton batu bara serta 8.051.205 ton angkutan nonbatu bara, antara lain peti kemas, semen, BBM, pulp, produk perkebunan, dan retail. Layanan angkutan barang berbasis rel mendukung distribusi komoditas dari sentra produksi menuju kawasan industri dan titik distribusi.

“KAI Group akan terus meningkatkan keselamatan, keandalan, kapasitas, dan integrasi layanan. Pertumbuhan pelanggan menjadi dorongan bagi kami untuk memastikan jaringan perkeretaapian memberikan manfaat yang semakin besar bagi mobilitas masyarakat dan perekonomian nasional,” tutup Anne.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....