Kemenag Cimahi Perkuat Kompetensi Guru soal Moderasi Beragama

  • 04 Feb 2026 15:13 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Cimahi - Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cimahi menggelar kegiatan penguatan pendidik dan tenaga kependidikan madrasah tahun 2026, dengan tema Internalisasi Nilai Kerukunan Umat Beragama dalam Pembelajaran. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kemenag Kota Cimahi dan dibagi ke dalam dua sesi, pagi dan siang. Rabu 4 Januari 2026.

Sebanyak 100 guru honorer madrasah swasta se-Kota Cimahi mengikuti kegiatan ini. Para peserta merupakan guru yang telah mengabdi lebih dari 10 tahun namun belum bersertifikasi. Jumlah tersebut dipilih dari total sekitar 500 guru honorer madrasah yang memenuhi kriteria di wilayah Kota Cimahi.

Selain menerima penguatan materi, seluruh peserta juga mendapatkan bantuan paket sembako sebagai bentuk perhatian dan dukungan dari Kemenag Kota Cimahi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Cimahi, Baiq Raehanun Ratnasari, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kompetensi guru honorer, khususnya dalam memahami dan mengajarkan nilai moderasi beragama.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kompetensi guru, terutama dalam menerima keberagaman serta keterampilan mengintegrasikan nilai moderasi beragama ke dalam mata pelajaran,” ujar Baiq Raehanun.


Baca Juga: Pemkot Bandung Siapkan Transit Sampah Legok Nangka


Menurutnya, guru memiliki peran strategis sebagai teladan bagi peserta didik. Karena itu, penguatan pemahaman moderasi beragama dinilai penting agar dapat ditularkan kepada siswa sejak dini.

“Saya berharap para guru dapat menjadi agen moderasi beragama, mampu menerima perbedaan agama, budaya, suku, maupun bahasa, dan menanamkan nilai tersebut kepada murid-muridnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Cimahi, Evi Soviawati, menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan memoderasi ajaran agama, melainkan cara seseorang dalam menjalankan dan menyikapi keberagaman.

“Yang dimoderasi bukan agamanya, tapi cara kita beragama. Anak-anak madrasah hidup di tengah masyarakat yang beragam, sehingga penting bagi guru untuk menginsersikan nilai moderasi beragama ke dalam pembelajaran,” jelas Evi.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama diterapkan di madrasah, meski sebelumnya belum dikemas secara khusus dalam istilah moderasi beragama.

“Nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila sebenarnya sudah mencerminkan moderasi beragama. Saat ini hanya diperkuat kembali, mengingat tantangan generasi sekarang yang semakin kompleks,” ucapnya.

Evi juga mencontohkan penerapan pengenalan keberagaman budaya di Madrasah Tsanawiyah Negeri Cimahi melalui penamaan kelas berdasarkan daerah di Indonesia, seperti kelas Papua dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan daerah lainnya.“Melalui pengenalan budaya dan sejarah daerah lain, siswa belajar sejak dini untuk menerima perbedaan dan mencintai keberagaman sebagai bagian dari NKRI,” kata Evi mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....