Pemkot Optimalkan RDF Solusi Sementara Pengelolaan Sampah
- 20 Jan 2026 13:46 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya mencari solusi efektif dalam mengatasi persoalan pengelolaan sampah. Salah satu langkah yang saat ini dioptimalkan adalah pemanfaatan refuse derived fuel (RDF) sebagai solusi sementara, sembari menunggu penerapan teknologi pengolahan sampah yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengatakan penerapan RDF di Kota Bandung telah mulai dijalankan sesuai dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah kendala, khususnya terkait standar produksi RDF yang belum sepenuhnya memenuhi spesifikasi teknis industri semen.
“Saat ini RDF sudah mulai diterapkan di Kota Bandung. Namun kendalanya, standar produksi RDF yang dihasilkan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri semen, sehingga pengiriman RDF belum bisa dilakukan secara maksimal,” ujar Darto, Selasa 20 Januari 2026.
Darto menjelaskan, saat ini Kota Bandung memiliki enam instalasi RDF yang tersebar di beberapa titik. Meski demikian, kapasitas produksinya masih terbatas, yakni berkisar antara 20 hingga 30 ton per hari. Angka tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan pabrik semen yang rata-rata mencapai 150 ton per hari.
Baca juga:Lima Perguruan Tinggi Kaji Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan
“Dengan kapasitas produksi yang ada sekarang, tentu belum bisa memenuhi kebutuhan industri semen secara berkelanjutan. Selain itu, biaya produksi RDF juga relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan teknologi pengolahan sampah lainnya,” katanya.
Selain persoalan kapasitas dan biaya, Pemkot Bandung juga mempertimbangkan keterbatasan teknologi pengolahan sampah yang saat ini tersedia di dalam kota. Oleh karena itu, jika kapasitas insinerator yang ada di Kota Bandung dinilai tidak mencukupi, pemerintah kota membuka peluang kerja sama dengan daerah lain yang memiliki fasilitas pengolahan sampah sesuai standar.
“Kami siap bekerja sama dengan daerah lain, misalnya dengan Kota Cimahi, untuk memanfaatkan insinerator yang memenuhi syarat dan standar yang ditetapkan,” ucap
Langkah kerja sama antar daerah tersebut, lanjut Darto, dipandang sebagai solusi jangka pendek guna mengurangi penumpukan sampah di Kota Bandung. Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi transisi sambil menunggu hadirnya teknologi pengelolaan sampah yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
“Kami berharap berbagai upaya yang dilakukan ini dapat membantu menekan volume sampah di Kota Bandung, sekaligus mendukung pemanfaatan energi alternatif melalui RDF,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....