“Kita Indonesia”, Melawan Lupa Sejarah Kemerdekaan
- 23 Agt 2025 12:13 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung; Program unggulan “Kita Indonesia” yang digelar serentak oleh seluruh RRI di Indonesia pada Sabtu (23/8/2025), menghadirkan kekhasan tersendiri di Bandung. Melalui sajian seni dan dokudrama, RRI Bandung mengusung misi khusus yaitu “melawan lupa” serta mengumpulkan kembali potongan sejarah kemerdekaan yang kerap terabaikan.
Kepala LPP RRI Bandung, Soleman Yusuf, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah memperkuat gotong royong lintas generasi sekaligus menghadirkan kembali narasi sejarah perjuangan bangsa.
“Rangkaian Kita Indonesia ingin supaya semua elemen masyarakat antargenerasi bergotong royong dalam membangun bangsa, baik di aspek budaya, ekonomi, maupun sosial. Namun, khusus RRI Bandung, kami ingin menghadirkan misi tambahan, yakni melawan lupa sejarah dan menyusun kembali keping puzzle perjuangan kemerdekaan,” ujar Soleman, Sabtu (23/8/2025).
Baca juga: Komitmen Pemkab Subang Wujudkan Rumah Murah untuk Rakyat
Dokudrama Berdasarkan Fakta Sejarah
Dalam pagelaran ini, RRI Bandung menampilkan dokudrama sejarah yang 40 persen kontennya berbasis pada fakta dan bukti otentik. Salah satunya adalah warisan rekaman suara asli penyiar RRI, Sakti Alamsah dan R.A. Daria, yang pada 1945 menyiarkan kabar proklamasi kemerdekaan melalui gelombang radio.
Soleman menuturkan, setelah Radio Hosu Kyoku berhasil direbut, kedua tokoh tersebut menyiarkan dengan identitas baru: “Di sini Bandung, siaran Radio Republik Indonesia”. Penyebutan itu kemudian terdengar hingga ke BBC London, yang bahkan menduga Indonesia akan memilih sistem pemerintahan berbentuk republik.
“Padahal saat itu bentuk negara kita belum ditentukan, apakah republik, serikat, atau federal. Namun pemuda-pemuda Bandung secara intuitif sudah menyebut ‘Radio Republik Indonesia’. Itulah momentum penting yang kami angkat kembali,” katanya.
Selain itu, dokudrama juga menampilkan rekaman suara Imran Rosadi, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Baghdad pada 1945. Saat itu ia menjabat sebagai ketua perkumpulan pelajar Indonesia di Irak.
“Dalam rekaman itu, beliau bersaksi mendengar langsung kabar Indonesia merdeka melalui radio Philips di Baghdad, dan siaran yang ditangkap adalah dari RRI Bandung. Ini menjadi bukti sejarah yang sangat berharga,” tuturnya.
Dipilihnya format dokudrama bukan tanpa alasan. Menurut Soleman, generasi muda kini lebih mudah menerima informasi dalam bentuk visual dan narasi dibandingkan hanya melalui buku teks.
“Kalau hanya ditulis dalam buku, mungkin agak sulit menarik minat generasi muda. Tapi ketika disajikan dalam bentuk cerita dan drama, mereka lebih antusias mendengarkannya. Inilah cara kami menghadirkan sejarah agar lebih hidup dan dekat dengan masyarakat,” katanya.
Soleman menggambarkan program “Kita Indonesia” seperti bola salju yang terus bergulir dan membesar. Ia berharap semangat ini tidak hanya berhenti pada pagelaran budaya, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk membangun bangsa secara gotong royong, termasuk dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
“Ini akan terus kita lakukan sebagai upaya RRI untuk tetap relevan sebagai lembaga penyiaran publik. Kami ingin terus memberikan dampak positif dan menginspirasi dengan nilai-nilai keindonesiaan,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....