UPI Dorong Kemandirian Energi di tengah Kenaikan BBM
- 12 Jun 2026 22:13 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang terjadi seiring meningkatnya harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah dinilai memerlukan respons yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Ekonomi Mikro Pendidikan Ekonomi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. Eeng Ahman, M.S., dikutip dari laman resmi UPI, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurut Prof. Eeng Ahman, perubahan harga BBM non-subsidi dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Selain itu, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS turut meningkatkan biaya impor energi yang pada akhirnya berdampak pada harga jual BBM di dalam negeri.
Ia menjelaskan, dari sudut pandang ekonomi mikro, kenaikan biaya memperoleh suatu barang akan berpengaruh langsung terhadap harga yang terbentuk di pasar. Kondisi tersebut juga berlaku pada komoditas energi yang sebagian pasokannya masih bergantung pada impor.
“Dalam teori ekonomi, ketika suatu barang menjadi makin langka atau biaya memperolehnya meningkat, maka harga cenderung naik. Begitu pula untuk barang impor, pelemahan nilai mata uang domestik akan meningkatkan biaya pengadaan. Karena itu, kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah memberikan tekanan yang kuat terhadap harga BBM di dalam negeri,” ujar Prof. Eeng Ahman.
Lebih lanjut, ia menilai kenaikan harga BBM tidak hanya meningkatkan biaya produksi berbagai sektor usaha, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Saat biaya energi mengalami kenaikan, masyarakat cenderung melakukan penyesuaian terhadap pengeluaran maupun aktivitas mobilitas sehari-hari.
Dampak tersebut juga dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor transportasi, kuliner, serta layanan pengantaran yang menghadapi peningkatan biaya operasional.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Prof. Eeng menilai langkah paling memungkinkan untuk dilakukan dalam waktu dekat adalah meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Menurutnya, upaya tersebut memerlukan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha hingga masyarakat agar dampak kenaikan biaya energi terhadap aktivitas ekonomi dapat ditekan.
“Dalam jangka pendek, yang paling realistis adalah mendorong efisiensi penggunaan BBM, baik oleh masyarakat, pelaku usaha, maupun pemerintah,” katanya.
Selain mendorong penghematan energi, Prof. Eeng juga menekankan pentingnya menjaga keberadaan BBM bersubsidi sebagai bagian dari perlindungan sosial bagi masyarakat. Ia menilai Pertalite dan Biosolar masih memiliki peran strategis dalam mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi kelompok rentan dan pelaku UMKM.
Di sisi lain, Prof. Eeng memahami keputusan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang dilakukan Pertamina sebagai langkah yang wajar dari sisi ekonomi. Sebagai perusahaan yang beroperasi berdasarkan mekanisme pasar, Pertamina perlu menjaga keberlangsungan usahanya agar tidak terbebani kerugian akibat fluktuasi harga energi global.
Meski demikian, sebagai badan usaha milik negara, perusahaan tersebut tetap perlu memperhatikan kepentingan masyarakat dalam setiap kebijakan yang diambil.
Menurutnya, solusi paling mendasar untuk mengurangi dampak gejolak harga energi dunia adalah memperkuat kemandirian energi nasional. Hal itu dapat dilakukan melalui peningkatan produksi energi dalam negeri, pembangunan kilang minyak, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya energi nasional sehingga ketergantungan terhadap pasar internasional dapat dikurangi secara bertahap.
“Dalam jangka panjang pemerintah harus memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan kapasitas produksi energi domestik dan upaya mencapai swasembada energi. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global di masa mendatang,” ujarnya.
Prof. Eeng menambahkan, penguatan sektor energi perlu berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan dan berbagai sektor produktif lainnya. Dengan ekonomi yang lebih mandiri, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, mempertahankan daya beli masyarakat, serta menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Prof. Dr. H. Eeng Ahman, menunjukkan kenaikan harga BBM tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan efisiensi energi dan mempercepat terwujudnya swasembada energi nasional. Langkah tersebut diyakini akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....