Apa Sebab Sifat Pendiam, Tapi Banyak DIhormati
- 31 Jan 2026 21:25 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Di tengah era media sosial yang dipenuhi pamer pencapaian dan haus validasi, muncul fenomena menarik tentang orang-orang yang terlihat tenang, tidak banyak bicara, dan jarang menonjolkan diri, namun justru mendapat rasa hormat dari lingkungan sekitarnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah quiet confidence.
Melansir dari kanal YouTube @Upgradediri, dijelaskan bahwa quiet confidence bukanlah sifat pendiam, antisosial, atau kurang percaya diri. Sebaliknya, ini adalah bentuk kepercayaan diri yang matang, tidak perlu diumumkan, dan tidak bergantung pada pengakuan orang lain. Orang dengan quiet confidence tahu siapa dirinya, memahami kemampuan serta batasannya, dan merasa cukup tanpa harus membuktikan apa pun ke publik.
Dalam penjelasannya, quiet confidence lahir dari pemahaman diri yang mendalam dan self esteem yang stabil. Mereka tidak menjadikan jumlah likes, komentar, atau pengakuan di media sosial sebagai tolok ukur nilai diri. Penelitian psikologi yang dikutip kanal tersebut menunjukkan individu dengan internal locus of control cenderung lebih tenang, stabil secara emosional, dan tidak mudah tertekan oleh standar sosial.
Ciri orang dengan quiet confidence terlihat dari sikap yang nyaman dengan diri sendiri, tetap tenang di bawah tekanan, serta membuktikan kualitas lewat tindakan, bukan kata-kata. Mereka tetap bergerak dan konsisten meski tidak sedang disorot atau dipuji. Dorongan utama datang dari dalam diri, bukan dari penilaian luar.
Baca juga : Banyak Ngopi - Kurang Air Putih Picu Gangguan Kesehatan
Sebaliknya, ketergantungan berlebihan pada validasi eksternal disebut dapat membuat seseorang rapuh secara mental. Tekanan untuk selalu terlihat baik di media sosial berisiko memicu kecemasan, kelelahan emosional, hingga kehilangan jati diri, terutama pada generasi muda yang aktif secara digital.
Kabar baiknya, quiet confidence bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Prosesnya dimulai dengan mengenal diri sendiri, berhenti membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial, serta membangun kebiasaan self validation. Mengurangi screen time dan memperkuat hubungan yang otentik juga menjadi kunci penting dalam membentuk kepercayaan diri yang sehat.
Fenomena ini dinilai sebagai tanda pergeseran gaya hidup, di mana semakin banyak orang memilih hidup lebih privat, tenang, dan autentik. Quiet confidence menjadi simbol kekuatan mental baru di tengah dunia yang semakin bising.
Pada akhirnya, kepercayaan diri sejati bukan tentang siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling mengenal dan menerima dirinya sendiri.