Ada Apa Dibalik Perilaku Sungkan Terhadap Orang Lain
- 08 Jan 2026 23:05 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Sikap selalu mengalah dan berusaha menyenangkan semua orang kerap dianggap sebagai tanda hati yang baik. Namun di balik itu tersimpan kelelahan batin yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya sendiri.
Fenomena tersebut dikenal dalam psikologi sebagai people pleasing, yakni perilaku yang didorong oleh ketakutan akan penolakan dan keinginan untuk selalu diterima, sebagaimana dibahas dalam berbagai kajian psikologi kepribadian.
Melansir dari kanal youtube @lipia13, perilaku people pleasing umumnya tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk sejak masa kanak-kanak, terutama dari lingkungan keluarga yang menerapkan kasih sayang secara bersyarat, di mana anak hanya dihargai ketika bersikap penurut dan menekan emosinya.
Dalam kondisi itu, seorang anak belajar bahwa dirinya yang apa adanya tidak cukup untuk dicintai, sehingga ia merasa harus menjadi versi yang diinginkan orang lain demi mendapatkan rasa aman, ungkap sejumlah praktisi psikologi perkembangan.
Pola tersebut terbawa hingga dewasa, membuat seseorang sulit berkata tidak, cenderung mengorbankan kebutuhan pribadi, dan terus berusaha menjaga harmoni dengan orang lain meski harus menanggung kelelahan emosional yang mendalam.
Baca juga : Fesyen Sirkular: Upaya Mengurangi Limbah Industri Mode
Sementara itu, dari sisi biologis, people pleasing juga berkaitan dengan respons sistem saraf. Selain respons fight atau flight, terdapat respons fawn, yakni kecenderungan untuk meredam ancaman dengan cara menyenangkan pihak lain demi merasa aman.
Tokoh psikologi Carl Jung dalam Analytical Psychology menjelaskan konsep shadow atau bayang-bayang kepribadian, di mana emosi seperti marah, ambisi, dan keberanian menolak ditekan karena dianggap buruk.
Menurut Jung, menekan sisi manusiawi tersebut justru membuat seseorang kehilangan pertahanan diri dan rentan dimanfaatkan, sehingga pemulihan perlu dimulai dengan mengakui dan menerima sisi diri yang selama ini disembunyikan.
Para ahli menekankan bahwa menetapkan batasan bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri, meski pada awalnya dapat memunculkan rasa bersalah dan ketidaknyamanan.
Pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa besar ia berkorban untuk orang lain. Melainkan oleh kemampuannya bersikap jujur pada diri sendiri dan menjaga hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri.