Nyangku Panjalu: Tradisi Penyucian Pusaka Peninggalan Leluhur

  • 08 Sep 2026 20:31 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Upacara adat Nyangku merupakan tradisi pembersihan benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu dari Ciamis, Jawa Barat. Tradisi sakral ini rutin dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Mulud (Rabiulawal) oleh para keturunan dan masyarakat setempat.

Kegiatan ini bukan sekadar ritual berkala, melainkan sebuah bentuk penghormatan mendalam terhadap sejarah dan ajaran leluhur yang pernah memimpin wilayah tersebut. Sejarah mencatat bahwa Prabu Sanghyang Borosngora adalah sosok penting yang pertama kali membawa dan menyebarkan ajaran Islam di tanah Panjalu.

Beliau memperoleh benda-benda pusaka, seperti pedang dan cis (tombak), setelah menuntut ilmu agama hingga ke Tanah Suci Makkah. Oleh karena itu, ritual Nyangku berfungsi sebagai sarana untuk memperingati jasa beliau dalam menyebarkan ajaran kebaikan dan kedamaian di bumi Pasundan.

Prosesi upacara diawali dengan pengeluaran benda-benda pusaka dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit menuju Nusa Gede, sebuah pulau kecil di tengah Situ Lengkong Panjalu. Pusaka-pusaka tersebut digendong oleh para keturunan Raja Panjalu dengan diiringi sholawat dan musik tradisional seperti terbang seureuh.

Suasana religius dan khidmat sangat terasa saat iring-iringan perahu melintasi danau menuju lokasi pembersihan utama. Inti dari tradisi ini adalah pembukaan pembungkus pusaka dan pencucian setiap benda peninggalan menggunakan air dari sembilan mata air keramat.

Air tersebut dicampur dengan jeruk nipis serta bunga setaman untuk membersihkan karat dan menjaga keawetan logam pusaka. Setelah proses pencucian selesai, pusaka-pusaka tersebut dikeringkan, diolesi minyak wangi khusus, lalu dibungkus kembali dengan kain putih untuk disimpan hingga tahun berikutnya.

Lebih dari sekadar pembersihan benda bersejarah, upacara adat Nyangku memiliki makna simbolis untuk menyucikan diri dan hati manusia dari segala dosa serta keburukan. Tradisi ini juga terbukti ampuh mempererat tali silaturahmi antarwarga, melestarikan nilai kearifan lokal, serta menjadi daya tarik wisata budaya yang membanggakan bagi Kabupaten Ciamis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....