Belajar dari Suyadi Alias Pak Raden, FSRD ITB Dorong Seni Rupa Lebih Bercerita

  • 22 Agt 2026 09:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kemampuan seni tidak hanya sebatas menghasilkan karya visual, seorang seniman juga dituntut mampu menyampaikan cerita dan gagasan melalui karya yang dibuatnya. Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang dapat dipetik dari sosok Suyadi atau Pak Raden, seniman tokoh nasional sekaligus alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang dikenal luas melalui karakter Si Unyil.

Wakil Dekan Akademik FSRD ITB, Banung Grahita mengatakan, Suyadi merupakan contoh seniman multitalenta. Selain memiliki kemampuan menggambar dan ilustrasi yang kuat, ia juga dikenal memiliki kemampuan bercerita yang baik sebagai seorang dalang.

"Kalau bicara Pak Raden, beliau merupakan tokoh yang multitalenta. Selain bisa menggambar dan memiliki kemampuan ilustrasi yang luar biasa, beliau juga punya kemampuan bercerita yang hebat," ujar Banung, Jumat 21 Agustus 2026.

Menurutnya, kemampuan Suyadi dalam mengartikulasikan cerita ketika mendalang menjadi salah satu kekuatan yang membuat karya-karyanya memiliki karakter yang kuat. Hal tersebut juga dikatakan oleh Banung jarang dijumpai pada mahasiswa-mahasiswa seni rupa di era sekarang.

"Bagaimana artikulasi beliau saat tampil dan mengembangkan cerita itu hebat. Itu yang mungkin sekarang jarang dijumpai pada anak-anak yang masuk jurusan seni rupa sekarang, karena mereka cenderung monodisiplin di visual," katanya.

Banung mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dunia pendidikan seni saat ini. Mahasiswa seni rupa tidak hanya perlu menguasai kemampuan visual, tetapi juga perlu memahami bagaimana karya dapat menyampaikan cerita kepada masyarakat.

Karena itu, FSRD ITB terus berupaya mengembangkan pendidikan yang mendorong seni rupa tidak hanya menghasilkan karya secara visual, tetapi juga memiliki kemampuan bercerita.

"Secara kurikulum, kita juga ingin mengembangkan wilayah bagaimana seni rupa bisa bercerita, seperti Pak Suyadi atau Pak Raden tadi," ujarnya.

Pemikiran tersebut sejalan dengan semangat Museum Mini Suyadi yang digelar TaCita (Yayasan Cita Cerita Anak) bersama FSRD ITB/KIBA ITB, di Hotel Butik Sawunggaling, Bandung, dari tanggal 21 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026.

Pameran tersebut tidak hanya menampilkan karya Suyadi, tetapi juga menghadirkan pengalaman bagi pengunjung melalui instalasi, cerita, koleksi boneka, sketsa, lukisan, serta berbagai kegiatan seperti panggung cerita dan workshop.

Dosen FSRD ITB sekaligus Ketua Panitia Museum Mini Suyadi, Riama Maslan Sihombing mengatakan, konsep tersebut dibuat agar pengunjung tidak hanya melihat atau membaca karya Suyadi, tetapi dapat merasakan pengalaman yang berbeda.

"Jadi, bukan hanya museum, tapi ada experience baru yang bisa dirasakan," ujar Riama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....