Jejak Sejarah dan Mitos Sanghyang Bedil di Karang Kamulyan

  • 18 Agt 2026 18:45 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung : Situs Karang Kamulyan yang terletak di Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, merupakan kawasan cagar budaya peninggalan Kerajaan Galuh. Di dalam kompleks hutan lindung bersejarah ini, terdapat sembilan obyek punden berundak dan batuan purba.

Salah satu bagian situs yang paling menyedot perhatian dan sarat akan nilai arkeologis adalah obyek yang dikenal dengan nama Sanghyang Bedil. Berdasarkan inventarisasi Balai Pelestarian Kebudayaan dan kajian arkeologi, Sanghyang Bedil berupa area berpagar susunan batu yang di dalamnya menyimpan struktur menhir purba.

Secara historis dan geologis, tempat ini menjadi bukti keberlanjutan tradisi megalitikum yang berakulturasi dengan era Kerajaan Galuh. Keberadaannya dilindungi secara resmi oleh pemerintah sebagai benda cagar budaya untuk menjaga keutuhan warisan peradaban Sunda purba.

Di balik status cagar budayanya, masyarakat setempat menyimpan cerita mitos yang dituturkan secara turun-temurun mengenai asal-usul nama Sanghyang Bedil. Konon, di area ini pernah tersimpan sebuah senjata rahasia atau pusaka sakral milik Kerajaan Galuh yang bentuknya menyerupai senapan atau bedil.

Mitos warga meyakini bahwa pada masa-masa tertentu, terutama menjelang peristiwa besar atau pergantian zaman, dari arah batu tersebut sering terdengar suara dentuman keras yang membahana layaknya letusan meriam.

Mitos lain yang dipercayai warga lokal adalah fungsi Sanghyang Bedil sebagai gudang senjata gaib serta tempat menguji kesaktian para prajurit Galuh pada masa kepemimpinan Ciung Wanara. Batu yang membujur di area tersebut diyakini mengandung energi mistis pelindung kerajaan.

Hingga kini, sebagian masyarakat masih menganggap tempat ini sebagai lokasi yang memiliki kesakralan tinggi, sehingga siapapun yang berkunjung diwajibkan menjaga tata krama dan sopan santun. Keberadaan Sanghyang Bedil di Karang Kamulyan Ciamis menjadi wujud nyata bagaimana nilai sejarah, penemuan arkeologi, dan tradisi lisan saling melengkapi.

Menjaga kelestarian situs ini tidak hanya berarti merawat peninggalan fisik masa lalu, tetapi juga merawat kearifan lokal serta kisah-kisah mitologi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Sunda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....