Budayawan Gelar Upacara HUT RI, Diky Candra Didaulat Jadi Pembina Upacara

  • 18 Agt 2026 17:59 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Tasikmalaya- Ratusan budayawan menggelar upacara HUT RI di Kawasan Batu Mapar di Kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa 18 Agustus 2026. Dalam upacara yang diikuti Budayawan se Jawa Barat ini, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra, didaulat menjadi pembina upacara.

Selain menjadi pembina upacara, Diky juga mendapat penghargaan, sertifikat, medali dan pin, sebagai pelaku budaya.“Sebetulnya secara fisik lumayan lemah karena kekuatan dan ada musibah yang menimpa adik saya. Yang lebih mengejutkan, saya diminta jadi pembina upacara pengibaran bendera,” kata Diky, usai pelaksanaan upacara.

Meski sempat minder saat jadi pembina upacara yang juga dihadiri purnawirawan jenderal, Kapolres Kabupaten Tasikmalaya, Ully Sigar, dan para tokoh dari Cirebon, Garut, Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya dan daerah lainnya, pelaksanaan upacara berjalan lancar.”alhamdulillah semua berjalan lancar,”ujarnya.

Selain menerima penghargaan, Diky juga menyerahkan penghargaan kepada para budayawan senior yang peduli budaya.”saya sendiri merasa belum pantas ya untuk mendapat penghargaan sebagai budayawan, justru para senior- senior yang hadir ini, yang pantas,” ujarnya.

“Semoga kepedulian mereka pada budaya menjadi langkah untuk selamatkan bumi, khususnya priangan timur, jabar dan nusantara,” katanya menambahkan.

Diky juga berharap, ke depan akan lahir anak- anak muda, yang peduli budaya dan menjadi penjaga alam dan budaya Nusantara, khususnya Jawa Barat.

Sementara itu, dalam pelaksanaan upacara tersebut, pakaian petugas Paskibraka berbeda dengan Paskibraka pada umumnya. Paskibraka dalam upacara ini mengenakan pakaian adat lengkap.

Meski tampil berbeda, barisan tetap disiplin. Bendera Merah Putih dikibarkan sempurna."Ini budayawan banyak hadir termasuk para kasepuhan di Jawa Barat," kata Anton Charliyan, budayawan Sunda.

Terkait dengan pelaksanaan upacara yang dilaksanakan tanggal 18 Agustus, Anton mengatakan, pemilihan tanggal ini punya dasar sejarah. Menurutnya, 17 Agustus 1945 adalah hari pembacaan teks Proklamasi. Sementara upacara kenegaraan pertama kali baru digelar pada 18 Agustus 1945.

"Kenapa tanggal 18 Agustus karena dulu upacara juga 18 Agustus di Manonjaya malahan. 17 Agustus itu Proklamasi dibacakan. Kita kenang lagi masa perjuangan dulu para pahlawan," kata Anton.

Tujuannya lanjut Anton, mengikat ingatan. Agar semangat masa awal kemerdekaan tidak hilang ditelan zaman, dan generasi muda tahu ada hari penting selain 17 Agustus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....